Universitas Gadjah Mada Jama'ah Shalahuddin
  • Home
  • JS Menulis
  • Hikmah

Ujian Keimanan

  • Hikmah
  • 12 April 2013, 07.33
  • Oleh : Jama'ah Shalahuddin UGM

Pohon Keimanan - Jama'ah Shalahuddin UGM

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta (QS al-Ankabut [29]: 2-3).

Orang-orang yang beriman memang tidak bisa melepaskan diri dari hal yang satu ini: ujian keimanan. Hal ini merupakan proses yang akan membuktikan keimanan seseorang. Ujian keimanan adalah keniscayaan. Ibnu Katsir menjelaskan, ujian yang diberikan itu sesuai dengan kadar keimanan seseorang. Rasulullah saw bersabda,“Manusia yang paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian berikutnya dan berikutnya. Seseorang dicoba sesuai dengan (kadar) agamanya. Ketika ia tetap tegar, maka ditingkatkan cobaannya.” (HR At-Tirmidzi)

Ujian Umat Terdahulu

Sejatinya, ujian yang kita rasakan belum seberat ujian orang-orang terdahulu. Rasulullah saw mengisahkan betapa beratnya perjuangan orang-orang terdahulu dalam perjuangan mereka mempertahankan iman, sebagaimana yang dituturkan kepada Sahabat Khabbab Ibnul Arats ra. “Umat sebelum kalian (karena beriman kepada Allah), ada yang disisir dengan sisir besi (sehingga) terkelupas dangin dan tulang-tulangnya, tetapi tidak memalingkannya dari agamanya, dan apapula yang diletakkan di atas kepada gergaji sampai terbelah dua, namun tidak memalingkannya dari agamanya…” (Shahih Al-Bukhari)

Betapa ujian keimanan umat terdahulu begitu luar biasa.

Untuk membuktikan sejauh mana kesungguhan seseorang dalam keimanan, maka Allah memberikan ujian keimanan. Semakin seseorang diuji, maka seharusnya semakin dekat pula ia kepada Allah dan semakin ia tegar pula dalam keimanannya.

Macam-Macam Ujian

Ujian yang diberikan Allah kepada seseorang bermacam-macam bentuknya. Namun, setidaknya ada empat macam ujian yang dihadapi orang-orang terdahulu:

1. Ujian yang berbentuk perintah yang harus dilaksanakan

Ujian ini seperti perintah Allah kepada nabi Ibrahim as untuk menyembelih putranya yang sangat ia cintai. Ini adalah satu perintah yang betul-betul berat dan mungkin tidak masuk akal. Bagaimana seorang bapak harus menyembelih anaknya yang sangat dicintai, padahal anaknya itu tidak melakukan kesalahan apapun. Namun dengan segala ketabahan dan kesabaran keduanya, perintah yang sangat berat itupun dijalankannya tanpa keraguan sedikitpun. Di sini terlihat bagaimana kualitas keimanan nabi Ibrahim as dan putranya Nabi Ismail as yang benar-benar sudah tahan uji. Betapa nabi Ibrahim memiliki maqam yang tinggi karena ujian keimanan yang dihadapi begitu berat. “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (QS. Ash Shaffat: 106)

2. Ujian yang berbentuk larangan untuk ditinggalkan

Ujian ini seperti yang terjadi pada nabi Yusuf as, yang diuji dengan seorang perempuan cantik. Istri seorang pembesar Mesir mengajaknya berzina. Kesempatan itu sangat terbuka. Ketika keduanya sudah tinggal berdua di rumah, perempuan itu telah mengunci seluruh pintu rumah. Namun,nabi Yusuf as berhasil menjaga kehormataannya karena keimanannya kepada Allah swt.

3. Ujian yang berbentuk musibah

Ingatkah kita dengan kisah syekh Ahmad Yasin yang memimpin Al-Qasam di atas kursi roda? Atau Panglima Sudirman yang memimpin perang gerilya dengan ditandu? Dengan keterbatasan yang ada, mereka tetap berjuang. Kelemahan fisik mereka dikalahkan dengan kekuatan iman yang begitu menggelora. Mereka tetap berjuang dengan keterbatasan yang mereka miliki, walau dengan kepayahan maupun kekurangan. Begitulah ujian Allah kepada mereka, untuk membuktikan ketangguhan imannya. Tidak sedikitpun ia merasa menderita.Tidak terbetik pada dirinya untuk menanggalkan imannya.

4. Ujian lewat tangan orang-orang kafir dan musuh-musuh Islam

Seperti yang dialami oleh nabi Muhammad saw dan para shahabat-nya, terutama ketika masih berada di Makkah. Juga apa yang dialami oleh para shahabat ra seperti apa yang dialami oleh Yasir dan istrinya, Sumayyah, dua orang pertama yang meninggal di jalan dakwah selama periode Makkah. Juga Bilal Bin Rabah ra yang dipaksa memakai baju besi, kemudian dijemur di padang pasir di bawah sengatan matahari, tapi yang ia ucapkan adalah “Ahad, Ahad, Ahad”. Dan masih banyak lagi kisah yang menunjukkan betapa pengorbanan dan penderitaan mereka dalam perjuangan mempertahankan iman mereka. Namun penderitaan itu tidak sedikit pun mengendorkan kekuatan iman mereka. “Sesungguhnya besarnya pahala tergantung pada besarnya ujian.(HR At-Tirmidzi)

Parameter Lulusnya Ujian Seseorang

1. Semakin seseorang banyak ujian, maka semakin ia produktif

2. Semakin bertambah keimanan

3. Semakin bertambah kesyukuran, melihat sesuatu dari sisi positif

4. Semakin bertambah sabar

Jika ada sebuah pertanyaan, “Adakah batasan sabar itu?” Maka jawabannya adalah, “Ada. Yaitu saat malaikat Izrail menjemput.” Maka perpanjanglah kesabaran kita.

walau hujan badai kan terus melanda

walau amuk gelombang tak henti menerjang

walau terang mencegah, walau mentari kan membakar

jangan letih menapaki kehidupan

ujian bagaikan terik sinar sang surya

hadir kedunia bersama berjuta karunia

janganlah bertekuk lutut dalam pelukan putus asa

janganlah bersimpuh dihadapan duka

hadapilah segala tantangan

sambutlah harimu dengan suka cita

hadapilah segala ujian

dalam kesulitan pasti ada kemudahan

(lirik: Shouhar-Hadapilah)

Ervira Rusdhiana
Mahasiswa Komputer dan Sistem Informasi 2010
Biro Khusus Kardeisasi Jamaah Shalahuddin UGM 1434H

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada