Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • JS Menulis
  • Hikmah

“Mencari Sekeping Hati yang Hilang”

  • Hikmah
  • 8 Januari 2014, 09.51
  • Oleh : Jama'ah Shalahuddin UGM

heartRasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam pernah bersabda, “Sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging yang jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya dan Jika ia buruk, maka buruklah seluruh tubuhnya, ia adalah hati.”

 (Muttafaq ‘alahi).

 

                HATI, sebuah kata yang berasal dari bahasa arab qalbun, yaitu anggota badan yang letaknya di sebelah kiri dada dan merupakan bagian terpenting bagi pergerakan darah. Dikatakan juga  hati sebagai qalb, karena sifatnya yang berubah-ubah.  Ibnul Qoyyim Al Jauziyah pernah mengatkan bahwa hati manusia terbagi dalam 3 kondisi:  Qalbun Salim  (hati yang sehat), Qalbun Mayyit  (hati yang mati) dan Qalbun Maridh (hati yang sakit).

Berikut penjelasan singkat mengenai 3 kondisi hati seseorang:

1.      Hati yang sakit (Qalbun Maridh)

Ia merupakan hati yang senantiasa dipenuhi penyakit yang bersarang di dalamnya. Di antaranya seperti Riya’, hasrat ingin dipuji, Hasad, dengki, ghibah dan sebagainya. Juga sikap sombong dan tamak. Orang yang memiliki Qalbun maridh (hati yang sakit) akan sulit menilai secara jujur apapun yang tampak di depannya. Saat melihat orang lain sukses, maka ia akan timbul iri dan dengki. Jika saudaranya yang mendaptakn kenikmatan, maka yang timbul adalah resah, gelisah, dan ujung-ujungnya menjadi benci.

Saat dihadapkan pada siapapun yang memiliki kelebihan, maka hatinya akan serta merta menyelidiki bibit-bibit dan kekurangannya. Dan apabila sudah menemukan kekurangan tersebut, hatinya pun akan merasa senang bukan kepalang, ibarat menemukan barang berharga, ia pun lalu mengumbar dan mengabarkan kekurangan orang itu kepada orang lain hingga kelebihannya menjadi tenggelam. Naudzhubillah, semoga Allah melindungi kita dari kondisi hati yang sakit.

2.      Hati yang mati (Qalbun Mayyit)

Hati ini sepenuhnya di bawah kekuasaan hawa nafsu, sehingga ia terhijab dari mengenal Allah Subhanahu Wata’ala. Hari-harinya adalah hari-hari penuh kesombongan terhadap Allah, sama sekali ia tidak mau beribadah kepada-Nya, dia juga tidak mau menjalankan perintah dan apa-apa yang diridhai-Nya.

Kondisi hati seperti ini berada dan berjalan bersama hawa nafsu. Ia tak peduli, apakah Allah ridha atas apa yang dilakukan atau tidak? Bila mencintai sesuatu, ia mencintainya karena hawa nafsunya. Begitu pula apabila ia menolak, mencegah, membenci sesuatu juga karena hawa nafsunya.
3. Hati yang baik dan sehat (Qalbun Salim)

       Inilah kondisi hati orang beriman. Hati ini adalah hati yang hidup, bersih, penuh ketaatan dengan cahaya terangnya dan bertempat di nafsul mutmainnah (jiwa yang tenang). Hati yang baik dan sehat ini terbebas dan selamat dari berbagai macam sifat tercela, baik yang berkaitan dengan Allah maupun yang berkaitan dengan sesama manusia dan makhluk Allah di alam semesta ini.

Karenanya, sangat penting bagi kita semua menjaga hari-hari dalam kehidupan kita, baik di lingkungan keluarga  serta bermasyarakat. Menjaga hati agar tetap selalu konsisten dalam ridho dan petunjuk Allah. Karena seringkali kita melalaikan hal-hal kecil yang tanpa kita sadari telah mengeroposkan kekuatan hati yang merupakan sumber berperilaku sehingga hati kita sangat sulit untuk menjadi sehat.

Maka dari itulah sebagai seorang Muslim kita dianjurkan untuk selalu berdoa di dalam shalat agar diberi ketetapan hati pada agama yang lurus (Islam). Karena, sesungguhnya hati itu dapat berkarat sebagaimana besi berkarat, dan cara membersihkannya adalah dengan mengingat Allah (dzikrullah). Dan ada dua hal yang menjadikan hati kita berkarat yaitu lalai dan dosa. Maka ada dua hal pula yang dapat kita lakukan agar hati kita kembali bersih, yaitu istighfar dan dzikrullah.

Carilah hatimu di 3 tempat..
Cari hatimu sewaktu membaca Al-Quran..
Jika tidak kau temui, carilah hatimu ketika mengerjakan sholat..

Jika tidak kau temui,juga carilah hatimu ketika kau duduk bertafakur mengingati mati..
Jika tidak kau temui juga, maka berdoalah kepada ALLAH, mintalah hati yang baru karena hakikatnya pada saat itu kau tidak lagi mempunyai hati.” 
(Imam Al Ghazali)

Jadi, termasuk yang manakah kondisi hati kita? Semoga hati kita ini adalah hati yang hidup, bersih, penuh ketaatan dengan cahaya terangnya dan bertempat di nafsul mutmainnah (jiwa yang tenang).

 

Ervira Rusdhiana,

Biro Khusus Kaderisasi 1434 H

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada