Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • JS Menulis
  • Catatan Shalahuddin

Tole, Mitos Kaum Muslimin dan Idul Adha

  • Catatan Shalahuddin, Hikmah
  • 11 September 2016, 16.04
  • Oleh : Jama'ah Shalahuddin UGM
  • 1

Oleh Fakhirah Inayaturrobbani
Departemen Kajian Strategi Jamaah Shalahuddin

“Le, sini, mari duduk sejenak, Pakdhe kangen sekaligus punya cerita. Sambil kita nikmati sayup-sayup angin semilir di musim yang aneh ini, yang sejenak hujan deras sejenak kemudian panas menyengat.” Tole, sebutan sayang untuk anak laki-laki dalam Bahasa Jawa. Anak laki-laki yang dimaksud itu pun mengangguk paham. Tanpa banyak bicara mulai mendekati pakdhe-nya tersebut.

“Sudah jamak didengar di telinga kita ya, Le. ‘Ah, kaum muslimin tidak akan pernah bersatu, terlalu banyak fraksinya (seperti partai saja), terlalu banyak alirannya, di Indonesia saja banyaknya minta ampun, belum di luar negeri’.” Pakdhe mulai bercerita. Anak laki-laki yang dipanggil tole itu pun mendengarkan dengan takzim setiap kata yang terlontar dari pakdhe-nya.

“Sudah jamak orang-orang menjadi sangsi, Le, Ah, apakah syiah dan sunni bisa bersatu? Melihat begitu sengitnya, yang katanya dikabarkan media sebagai perang antar sekte, terjadi?”

“Sudah jamak didengar, Le, ah, susah menyatukan satu kelompok Islam dengan kelompok lainnya, perang kepentingan.”

“Lagi-lagi, sudah jamak didengar, bahwa, sekulerisme adalah pengikat persatuan yang paling bisa diterima karena mewadahi semua warna. Cara satu-satunya menyatukan perbedaan. Sementara persatuan umat Islam dianggap utopis.”

“Ah, sudah jamak orang-orang berpikir demikian.”

“Ah, sedikit orang yang bijak memandang sejarah, bahwa, keretakan dalam tubuh umat Islam itu sedikit saja terjadi di antara kerukunannya. Persatuan umat Islam itu sudah melintasi batas ruang dan waktu selama tiga belas abad lamanya. Di bawah panji satu bendera kesatuan ummat, di bawah kepimpinan satu pemimpin,”

“Ah, sedikit orang yang tahu, Le, bahwa, dunia Islam bukan satu-satunya bangsa yang memiliki tantangan perbedaan semacam itu.”

“Ah, sedikit orang yang paham, bahwa, Paman Sam pernah berkutat dalam perang sipil 1861. Perang kuwi Le, akibat perpecahan di antara kubu pendukung United States of America (USA) dengan Conference States of America (CSA) yang didirikan oleh sebelas negara bagian di kawasan Selatan, mereka-mereka iki le, si CSA, pengen pegatan karo Amerika Serikat sakwise kepilih Abraham Lincoln sebagai presiden AS ning pemilu 1860.” (Mereka ingin berpisah dari AS setelah terpilihnya Abraham Lincoln sebagai presiden AS pada pemilu 1860).

“Perang sipil AS, menjadi bagian penting sejarah Amerika Serikat terhadap pentingnya pemerintahan yang satu, Le. Tapi, tidak pernah Le mereka menyebut sekulerisme sebagai pemersatunya.”

“Le, Brexit juga begitu kan Le? Persatuan bukan karena menggunakan sekulerisme lantas bersatu.”

“Ah sedikit yang tahu Le, perbedaan bukanlah suatu yang asing bagi Islam. Tradisi, budaya, bahasa dan madzab yang berbeda itu biasa dalam Islam. Seiring dengan meluasnya Islam, masyarakat di berbagai wilayah tersebut menjadi bagian dari Islam itu sendiri.”

“Ah, sedikit yang tahu Le, perdebatan di kalangan cendikiawan Islam itu biasa, Le. Perdebatan ini Le sing akhire nggawangi (yang akhirnya mengawal) perkembangan berbagai ilmu pengetahuan, misalnya pendalaman studi tentang madzab, fiqh dan sebagainya. Perkembangan itu, Le, menghasilkan cabang ilmu pengetahuan termasuk studi Islam yang semakin beragam.”

“Aneka perbedaan dalam pendalaman fakta, semakin kaya, Le, dengan pembebasan berbagai wilayah yang terus dilakukan. Hasilnya, Le, banyak umat Islam di Negara Islam yang wilayahnya di mana-mana itu, Le, mengkhususkan diri mempelajari disiplin-disiplin ilmu tertentu.”

“Le, budaya Islam yang multiwawasan iki berkembang dengan harmoni, Le. Masyarakat mendedikasikan dirinya untuk kemajuan negara Islam pada waktu itu. Ya kaya kowe iki Le, pinter, setiap cendikiawan Islam dari kebudayaan manapun, manapun latar belakangnya, dan setiap penulis apapun gaya bahasa dan tulisannya, dan setiap ilmuwan sains maupun sosial akan berdebat dan mengartikulasikan Islam.”

“Le. Sedikit yang paham, atmosfer seperti ini memang menimbulkan keanekaragaman kelompok, sekte, dan perbedaan pendapat, Le. Ini Le, yang perlu diingat. Ingat baik-baik, Le. Tapi, hanya sedikit saja dari semua itu yang tergolong melenceng dari ajaran Islam.”

“Sedikit Le, sedikit sekali yang paham, aneka macam aliran ini yang jumlahnya mencapai ratusan itu tidak dapat digolongkan sebagai kelompok-kelompok mandiri di tengah-tengah masyarakat. Coba Le, kalau luang, baca-baca sejarah Kekhilafahan Abbasiyah. Ibu kotanya, Baghdad, menjadi berkembang pesat sebagai pusat gagasan intelektual yang revolusioner. Para pemikir dari berbagai latar belakang di beri ruang berdebat. Kalau tak bayangkan ya, Le, biasa ditemui seminar-seminar hasil-hasil ijtihad atau hasil pendalaman fiqh di mana-mana, dan masyarakat tidak awam dengan seminar-seminar itu. Ruang-ruang diskusi tidak menjadi sudut eksklusif para cendikiawan semata. Karena diskusi publik sudah jadi budaya, Le. Di mana-mana orang membicarakan buah karya ulama A, B, C dan D, sebagaimana masyarakat kita ramai membicarakan kasus sianida. Riuhnya diskusi publik sudah menjadi bahan gunjingan yang laris, selaris obrolan gosip terbaru ibu-ibu.”

“Sedikit, Le, sedikit sekali yang paham, bahwa, kondisi ini menghasilkan suatu pemahaman yang kaya tentang Islam dalam menghadapi zaman. Karena Islam akhirnya bisa menjadi jawaban segala masalah yang melanda dari waktu ke waktu. Dulu, Le.”

“Sedikit, Le, sedikit sekali yang paham, bahwa, eksistensi berbagai kelompok dan aliran yang berbeda, sesungguhnya, memperkuat pemahaman tentang Islam, bukan menjadi sumber masalah.”

“Kok bisa, Le? Pasti kowe bertanya-tanya, dari mana bisa perbedaan menjadi sumber kekuatan bukan masalah? Sebab, Le. Perbedaan itu tak pernah jadi masalah selama ada wadah besarnya, Le. Apalagi kalau mereka paham kaidah berbeda, Le. Ijtihad yang satu tidak mengalahkan ijtihad yang lain asal proses ijtihad-nya jelas.Uji dalil biasa dilakukan, yang dalilnya paling kuat yang menang, Le. Bukan argumen kosonnya yang paling besar.”

“Jika perbedaan itu dapat berpotensi menimbulkan perpecahan besar, khalifah berhak mengambil keputusan berdasarkan ijtihad-nya. Namun, khalifah dilarang untuk menetapkan semua ijtihad-nya dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat. Hanya boleh pada perkara yang dapat berpotensi menimbulkan perpecahan umat. Dan berbagai adab berbeda dalam Islam saat itu dipahami dengan baik oleh kaum muslimin. Sehingga, sekali-kali bukan Islam yang menimbulkan perpecahan.”
“Sedikit, Le, yang paham bahwa, perbedaan yang akhirnya menimbulkan perpecahan kaum muslimin mulai terlihat semenjak ‘Para Pemenang Wilayah Ottoman berbagi Kekuasaan’. Para pemenang ini memperuncing sesuatu yang tidak runcing, supaya umat Islam sibuk saling bertikai sesuatu yang dulu tak perlu bertikai.”
“Le, Islam, selama berabad-abad lamanya, bukan menjadi penyebab pengotak-kotakan semacam itu, namun ketiadaan Islam itu sendirilah yang menjadi penyebabnya.”
“Le, ketiadaan Islam itu sendirilah yang menjadi penyebabnya.”
“Ratusan tahun sejarah Islam menunjukkan bahwa Islam memiliki aturan rinci yang mengatur masalah persatuan dan kesatuan. Dan telah terbukti sebagai alat pemersatu yang kokoh bagi bangsa-bangsa dari latar belakang yang berbeda.”
“Le, perpecahan yang kita saksikan hari ini merupakan sebuah rekayasa sosial kreasi kepentingan pihak-pihak yang tidak menginginkan Islam tegak berdiri.”
“Terakhir, Le. Kamu pasti bertanya-tanya, apa hubungannya dengan Idul Adha? Begini Le sakjane (sebenarnya) wajah persatuan, dekat dengan kita, Le. Setiap ibadah haji, ribuan umat muslim dari berbagai belahan dunia, berbagai wilayah, latar belakang budaya, perbedaan madzab, satu padu, hangat dalam ukhuwah ibadah haji. Persatuan itu, sejatinya selalu Allah tunjukkan melalui momentum haji. Tapi, sekali lagi, sungguh sedikit orang yang memahami hikmah ibadah haji dari sudut pandang ini, dan sedikit yang bergerak menyerukan persatuan umat. Malah banyak pula asyik termakan untuk memperuncing perbedaan sekaligus menumpulkan mereka yang menggerakkan persatuan. Coba Le, dipikirkan, apa yang hilang dari kita, Le? Wadah apa yang bisa mewadahi kaum muslimin di seluruh dunia serta memberi kekuatan politik di dalamnya?”
“Selamat merenung, Le… Selamat menjadi yang sedikit.”

Sumber Bacaan dan Inspirasi
1. Al-Quran surat al-Hajj: 22 “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. (Q.S. al-Hajj [22] 27).”
2. Mitos-Mitos Palsu Ciptaan Barat, Adnan Khan, 2008, Pustaka Thariqul Izzah, Bogor.
3. Mafahim Islamiyah, Menajamkan Pemahaman Islam, Muhammad Husain Abdullah, 2003, Al-Izzah, Bangil.
4. Ushul Fiqih, Membangun Paradima Berpikir Tasyri’, Hafidz Abdurrahman, 2012, Al-Azhar Press, Bogor.
5. Refreshing Pemikiran Islam, Muhammad-Muhammad Ismail, 2004, Al-Izzah, Bangil.

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Komentar (1)

  1. barangdiskon 9 tahun lalu

    oh

    Reply

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada