Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • Kajian

KAP 22 September 2024 | Al-Baqarah ayat 259: Kisah Al-’Uzair dan Keledainya serta Petunjuk Adanya Hari Kebangkitan

  • Kajian, Tafsir Qur'an
  • 22 September 2024, 23.56
  • Oleh : Jama'ah Shalahuddin UGM

Allah berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 259

أَوْ كَٱلَّذِى مَرَّ عَلَىٰ قَرْيَةٍ وَهِىَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا قَالَ أَنَّىٰ يُحْىِۦ هَٰذِهِ ٱللَّهُ بَعْدَ مَوْتِهَا ۖ فَأَمَاتَهُ ٱللَّهُ مِا۟ئَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهُۥ ۖ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ ۖ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۖ قَالَ بَل لَّبِثْتَ مِا۟ئَةَ عَامٍ فَٱنظُرْ إِلَىٰ طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ ۖ وَٱنظُرْ إِلَىٰ حِمَارِكَ وَلِنَجْعَلَكَ ءَايَةً لِّلنَّاسِ ۖ وَٱنظُرْ إِلَى ٱلْعِظَامِ كَيْفَ نُنشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوهَا لَحْمًا ۚ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥ قَالَ أَعْلَمُ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

Artinya:  “Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?” Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: “Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?” Ia menjawab: “Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari”. Allah berfirman: “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi beubah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging”. Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) diapun berkata: “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

 

Di awal ayat terdapat kata ٱلَّذِى yang tidak menunjukkan secara jelas siapa seseorang yang dimaksud dalam ayat ini karena tidak berfokus kepada orangnya, tetapi kepada peristiwanya. Menurut ulama  tafsir, seseorang yang dimaksud dalam ayat ini adalah ‘Uzair. Ia melewati suatu negeri, menurut sebagian ahli tafsir, kata قَرْيَةٍ dimaksudkan baitul maqdis dengan kondisi daerah dengan bangunan yang sudah runtuh. Lalu  ia berkata: “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?”. فَأَمَاتَهُ ٱللَّهُ مِا۟ئَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهُۥ  Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. 

Keraguannya tentang kekuasaan Allah untuk dapat mengembalikan negeri itu kepada keadaan semula, dapat kita terapkan kepada sesuatu yang lebih besar dari itu, yakni: “Kuasakah Allah untuk menghidupkan makhluk-Nya kembali pada Hari Kebangkitan, setelah mereka semua musnah pada hari kiamat?”. Oleh karena orang tersebut bukan orang kafir, melainkan orang yang masih berada dalam tingkat keragu-raguan tentang kekuasaan Allah, dan dia memerlukan bukti dan keterangan, maka Allah berbuat sesuatu yang akan memberikan keterangan dan bukti tersebut kepadanya. 

Ketika dia dihidupkan kembali, maka Allah mengajukan suatu pertanyaan kepadanya, قَالَ كَمْ لَبِثْتَ “Sudah berapa lamakah kamu berada di tempat itu?”. Allah swt mengajukan pertanyaan itu untuk menunjukkan kepadanya bahwa dia tidak dapat mengetahui segala sesuatu, termasuk tentang dirinya sendiri. Benar, orang itu menyangka bahwa ia berada di tempat itu baru sebentar,

sehari atau setengah hari. قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ Ia menjawab, “Aku berada di tempat ini baru sehari atau setengah hari saja”. قَالَ بَل لَّبِثْتَ مِا۟ئَةَ عَامٍ فَٱنظُرْ إِلَىٰ طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ Allah menerangkan kepadanya bahwa dia telah berada di tempat itu selama 100 tahun lamanya. Kemudian Allah memerintahkannya untuk memperhatikan sisa-sisa makanan dan minuman yang ditinggalkannya seratus tahun yang lalu, masih utuh dan tidak rusak. Ini membuktikan kekuasaan Allah, karena biasanya makanan tidak dapat bertahan lama. وَٱنظُرْ إِلَىٰ حِمَارِكَ Allah memerintahkannya untuk melihat keledainya, ternyata keledainya tinggal sisa tulang belulang.

وَلِنَجْعَلَكَ ءَايَةً لِّلنَّاسِ Allah menjadikan kejadian pada ‘Uzair ini sebagai tanda kekuasaan Allah bagi umat manusia yang hidup setelah negeri itu mereka bangun kembali. وَٱنظُرْ إِلَى ٱلْعِظَامِ كَيْفَ نُنشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوهَا لَحْمًا Untuk mengetahui kekuasaan Allah,  bagaimana cara Allah menghidupkan kembali keledai yang telah mati, dalam bentuk tulang belulang. Maka diperlihatkanlah tulang belulang keledai itu, bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian membalutnya dengan daging, maka hidup dan bangkitlah keledai itu seperti sedia kala. “Maka ketika telah nyata baginya bukti kekuasaan Allah dalam menghidupkan kembali keledai yang telah mati, dia berkata, “Saya mengetahui melalui pandangan mata dan pengalaman setelah sebelumnya saya hanya mengetahui berdasarkan argumen logika, bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Carilah peluang pahala untuk menjadi amal di akhirat karena usianya mungkin tidak sampai seratus, tapi usia amal kebaikannya melebihi seratus. Semua manusia akan bertemu kematian, tapi ada kehidupan setelah kematian, dan di sanalah kehidupan yang abadi. والله أعلمُ.

[ux_video url=”https://www.youtube.com/watch?v=JRdveqhFz34&t=34s”]

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada