Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • JS Menulis
  • Catatan Shalahuddin

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

  • Catatan Shalahuddin, Isu Dunia Islam, Uncategorized
  • 27 Juli 2025, 18.56
  • Oleh : Jama'ah Shalahuddin UGM

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia. Pada periode ini, terjadi perubahan yang cukup signifikan yang menghasilkan corak pergerakan Islam yang baru, terutama di kampus-kampus yang terkenal menjadi pusat keunggulan, seperti Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Corak ini dikenal khalayak dengan sebutan Gerakan Dakwah Kampus. Periode ini juga ditandai dengan persentuhan dakwah kampus dengan berbagai gerakan Islamis bercorak global, seperti Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, dan Salafi (Arrobi, 2020: 1-2). Ikhwanul Muslimin menginspirasi kemunculan gerakan Tarbiyah yang menyebar di Indonesia melalui gerakan-gerakan di seputar Masjid Salman ITB pada tahun 1980-an (Saluz, 2009: viii). Sementara Hizbut Tahrir menyebar di Indonesia melalui Masjid Al-Ghifari IPB (Arrobi, 2020: 24).

 

Gerakan Dakwah Kampus itu semakin menguat dengan lahirnya organisasi-organisasi Islam intrakampus yang kemudian dikenal sebagai Lembaga Dakwah Kampus (LDK). Pada tahun 1976, Jama’ah Shalahuddin didirikan di Universitas Gadjah Mada (Karim, 2006: 36) dan menjadi salah satu pelopor Lembaga Dakwah Kampus di Indonesia. Tokoh-tokoh yang terlibat dalam pendirian Jama’ah Shalahuddin UGM ialah Ahmad Fanani, Muslich Zaenal Asikin, Luqman, Toyibi, dan Samhari Baswedan (Karim, 2006: 23). Pada 1986, diadakan silaturahmi antar-LDK pertama di Indonesia. Silaturahmi itu dihadiri oleh perwakilan dari 6 kampus, yakni Jama’ah Shalahuddin dari UGM, Al-Ghifarry dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Salman dari ITB, Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Diponegoro (Undip), dan Universitas Airlangga (Unair). Pada 1987, silaturahmi LDK II diselenggarakan di UGM. Dan pada 1988, silaturahmi LDK diselenggarakan di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Pada pertemuan tersebut, diputuskanlah nama Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK).

 

Karena pengaruh Pemerintah Orde Baru di UNS sangat kental, agenda FSLDK tersebut dihadiri oleh Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora). Hadirnya Menpora memicu ketegangan luar biasa antara FSLDK dan negara. Menanggapi hal ini, akhirnya dalam forum tersebut muncul ide untuk membentuk khittah (garis besar haluan organisasi) sebagai rencana strategis gerakan dakwah kampus yang tidak terkooptasi oleh rezim. Yang kemudian ditunjuk menjadi tim perumus khittah adalah aktivis-aktivis dari Al-Ghifarry IPB. Faksi HTI yang memiliki basis di Al-Ghifarry IPB berhasil merumuskan khittah FSLDK yang disebut Mafahim pada pertemuan di Malang tahun 1989. Isi dari khittah FSLDK ini sangat kental dengan ideologi Hizbut Tahrir.

 

Pada bulan Maret 1998, diadakan pertemuan tahunan FSLDK ke-10 di UMM, Malang. Pertemuan ini menjadi titik tolak sejarah aktivis Tarbiyah di Indonesia. Pada pertemuan ini, mahasiswa-mahasiswa Tarbiyah mendeklarasikan berdirinya Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia, yang kemudian dikenal dengan singkatan KAMMI.

 

Deklarasi ini menimbulkan gejolak dahsyat di dalam tubuh FSLDK. Pertama, tidak ada agenda deklarasi KAMMI pada undangan resmi pertemuan FSLDK ke-10 di Malang itu. Ketiadaan agenda resmi itu membuat publik merasa janggal. Kedua, deklarasi KAMMI dilakukan di luar forum resmi acara, yakni setelah acara itu secara resmi ditutup oleh panitia. Ketiga, tokoh yang terpilih sebagai Sekretaris Jenderal pertama Pengurus Pusat KAMMI pada saat itu ialah Haryo Setyoko dari UGM. Keputusan ini menimbulkan tanda tanya karena Haryo Setyoko pada waktu itu adalah Ketua BEM UGM dan bukan anggota Jama’ah Shalahuddin UGM—bagaimana mungkin seseorang yang bukan anggota LDK dapat terlibat dalam pertemuan FSLDK dan memperoleh jabatan setinggi Sekretaris Jenderal?

 

Keputusan ini memantik kemarahan faksi HTI. Faksi HTI menganggap pertemuan FSLDK ke-10 itu sebagai “skenario jahat” tokoh-tokoh Tarbiyah untuk “membajak” FSLDK demi kepentingan politik mereka. Kemarahan itu pun memuncak ketika faksi HTI akhirnya memutuskan untuk keluar dari FSLDK. Bahkan, dalam rangka merespon ekspos besar-besaran KAMMI di media massa, Pusat Komando Wilayah (Puskomwil) FSLDK I yang meliputi Sumatra, Jawa Barat, dan DKI Jakarta serta LDK IPB membuat rilis pernyataan sikap yang menegaskan bahwa KAMMI bukan bagian integral dari FSLDK dan lahir di luar forum resmi FSLDK (Arrobi, 2020: 44).

 

Faksi HTI yang memisahkan diri dari FSLDK pun memulai jalannya sendiri. Mereka mendirikan lembaga yang menampung para aktivis HTI di kampus-kampus dalam dua bentuk yang terpisah antara laki-laki dan perempuan. Lembaga itu ialah Gema Pembebasan (GP) untuk kader laki-laki dan Back to Muslim Identity (BMI) untuk kader perempuan. Bahkan, mereka mendirikan Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus (BKLDK) untuk menandingi eksistensi FSLDK.

 

Pada awal perpecahannya, kelompok Tarbiyah dan HTI melancarkan hegemoninya dengan sentral yang berbeda di UGM. Kelompok Tarbiyah memusatkan aktivitas pembinaan kader-kadernya di Masjid Mardliyah dan masjid-musala fakultas. Sementara itu, halaqah-halaqah HTI terkonsentrasi di sayap selatan Masjid Kampus UGM (Arrobi, 2020: 86-87). Dalam situasi ini, Jama’ah Shalahuddin UGM menjadi rumah persemaian keduanya. Meski terombang-ambing dalam kecondongan kepada salah satu dari keduanya, Jama’ah Shalahuddin UGM senantiasa kokoh pada prinsip yang independen namun inklusif, serta tidak berafiliasi kepada pihak manapun.

 

Kini, perseteruan itu tidak lagi terasa. Kita tidak lagi melihat aktivis Tarbiyah dan HTI bertengkar sedahsyat dahulu kala. Bahkan kita bisa menyaksikan keduanya tumbuh harmonis dalam naungan yang sama. Kita dapat bersyukur karena umat tidak lagi bertengkar akibat dorongan ego dan kepentingan pribadi. Namun kita juga perlu khawatir karena hilangnya perseteruan itu juga diiringi dengan melemahnya gairah pergerakan dakwah mahasiswa. Perseteruan lama ternyata menghasilkan stigma yang negatif terhadap organisasi Islam mahasiswa. Kita dapat menyaksikan anggota-anggota Jama’ah Shalahuddin UGM menjadi apatis karena takut dikaitkan dengan organisasi Islam yang terkena stigma negatif. 

 

Di satu sisi, perdamaian memanglah indah, namun di sisi lain juga membuat umat terlena dengan kenyamanan. Pun demikian, di satu sisi pertengkaran memanglah buruk, namun di sisi lain juga membuat umat menjadi sadar akan nilai eksistensi dirinya. Jadi, sudah saatnya umat meninggalkan pemikiran yang bersifat hitam-putih. Pada dasarnya, baik perdamaian maupun pertengkaran, keduanya dibutuhkan. Hanya saja, umat perlu dewasa dalam menyikapinya.

 

 

Referensi:

Arrobi, Zaki. (2020). Islamisme ala Kaum Muda Kampus: Dinamika Aktivisme Mahasiswa Islam di Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia di Era Pasca Soeharto. Yogyakarta: UGM Press.

Karim, A, G. (2006). “Jama’ah Shalahuddin: Islamic Student Organisation in Indonesia’s New Order” dalam The Flinders Journal of History and Politics, (23).

Saluz, Nef. (2009). Dynamics of Islamic Student Movements: Iklim Intelektual Islam di Kalangan Aktivis Kampus. Yogyakarta: Resist Book.

 

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamJS Menulis Rabu, 21 Mei 2025

Ada satu fenomena yang terus menjadi pertanyaan: mengapa pedagang pribumi sering kalah bersaing dengan pedagang Tionghoa? Ada sebuah anomali dalam dunia bisnis di mana para pebisnis pribumi lebih memilih mengambil pasokan barang secara individu dari pemasok Tionghoa di kota, padahal faktanya mereka mampu melakukan pengambilan barang langsung ke pabrik secara kolektif (tentunya dengan harga yang jauh lebih murah).

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada