Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • Ramadhan di Kampus

Yuris Tiyanto: Akhir-akhir Ini Kondisi Pangan di Indonesia Cukup Mengkhawatirkan

  • Ramadhan di Kampus
  • 16 Maret 2024, 20.52
  • Oleh :

Pada jumat 15 Maret 2024, Ramadhan Public Lecture kembali hadir di masjid kampus UGM  bersama Kepala Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan, Ditjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Ir. Yuris Tiyanto, M.M. Pada kesempatan tersebut beliau mengajak masyarakat untuk bersinergi dan berkontribusi dalam peningkatan produksi pangan di Indonesia.

 

Menurut UU No. 18 tahun 2012 tentang Pangan, Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya Pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya Pangan yang cukup untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan. Sedangkan Kedaulatan Pangan adalah hak negara dan bangsa yang secara mandiri menentukan kebijakan Pangan yang menjamin hak untuk menentukan sistem pangan yang sesuai dengan potensi sumber daya lokal. Kemandirian Pangan adalah kemampuan negara dan bangsa dalam memproduksi pangan yang dapat menjamin pemenuhan kebutuhan pangan yang cukup sampai di tingkat perorangan.

 

Yuris menyatakan bahwa Indonesia pernah swasembada beras dua sampai tiga kali, tetapi akhir-akhir ini kondisi pangan di Indonesia cukup mengkhawatirkan. Hal ini terlihat dari jumlah penduduk miskin di Indonesia, yaitu 9,36% penduduk yang tersebar di beberapa wilayah, dengan persentase penduduk miskin tertinggi kab. Sampang di pulau jawa, kab. Kep. Meranti di pulau Sumatera, kab. Mahakam Ulu di pulau Kalimantan dan Papua.

 

Berdasarkan data yang telah Yuris kumpulkan, Ia menjelaskan bahwa terdapat sepuluh negara memiliki masalah kelaparan yang serius, 735 juta penduduk dunia mengalami kelaparan, dan negara-negara eksportir beras seperti: Indonesia, Bangladesh, India, Rusia dan Pakistan memberhentikan ekspor, sedangkan Indonesia termasuk dalam negara yang rentan kelaparan dengan persentase 7-16%. Hal ini dapat dibuktikan dari jumlah stok bulog di Indonesia pada 8 November 2023 hanya 1,38 juta ton, sehingga pemerintah merekomendasikan impor beras dengan jumlah 3,5 juta ton. Ia juga menjelaskan bahwa pada desember 2023 terjadi inflasi beras sebesar 0,8%, yang disebabkan karena  kondisi pupuk yang langka dan alat-alat pertanian yang sudah tua. 

 

Yuris menjelaskan bahwa untuk menghadapi permasalahan pangan, langkah  yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi tantangan dalam pembangunan pertanian seperti: terjadinya perang Rusia-Ukraina yang menyebabkan adanya inflasi akibat gangguan dalam proses ekspor impor, terjadinya perubahan iklim yang ekstrim sehingga pemerintah harus menambah anggaran bantuan, dan terjadinya perlambatan ekonomi di China dan Amerika, serta dampak dari pandemi covid-19. 

 

Pada tahun 2018-2022 kondisi beras di Indonesia tergolong aman karena jumlah produksi lebih besar dari kebutuhan masyarakat. Sedangkan pada tahun 2022-2023 produksi beras menurun 31,01 juta ton menjadi 30 juta ton sehingga pada tahun 2023 Indonesia mengimpor 3,5 juta ton. Ia berpendapat bahwa, jika uang impor beras tersebut dialokasikan untuk pemberdayaan masyarakat maka akan meningkatkan kesejahteraan petani. Sehingga pada tahun 2023-2024 Kementerian Pertanian melakukan refocusing (pemangkasan kegiatan-kegiatan yang tidak penting dan pemindahan alokasi pada kegiatan yang mendorong pertumbuhan produksi beras). Berdasarkan data Global Hunger Index 2023, angka kelaparan di Indonesia yaitu 17,6 tepatnya peringkat 77 dari 125 negara.

 

Kementerian Pertanian melakukan beberapa upaya untuk mengatasi permasalahan pangan di Indonesia, diantaranya: pertama, menerapkan pertanian yang berkelanjutan, ramah lingkungan dan hemat air yaitu disruptive agricultural technology yang bertujuan untuk menghemat input produksi, dengan benefit cost ratio (perbandingan biaya usaha dan manfaat) minimal 2 dan mengutamakan input organik, karena pasarnya lebih tinggi. Kedua, melakukan upaya diversifikasi pangan lokal non beras yaitu dengan mengkonsumsi pangan non beras seperti ubi dan jagung. Ketiga, mencegah gagal panen akibat banjir maupun hama dan penyakit dengan cara: menggunakan pengendali hama yang ramah lingkungan, memberikan asuransi kepada petani agar tetap sejahtera, meningkatkan infrastruktur irigasi, memberikan bantuan bibit dan pupuk yang tahan penyakit, dan mengedukasi petani terkait tips-tips mengurangi risiko gagal panen serta memberikan bantuan berupa alat pengolahan hasil agar hasil yang didapatkan maksimal dan peningkatan akses pangan agar penyaluran bantuan bersubsidi tepat sasaran.

 

Kontribusi produksi beras terbesar berasal dari pulau Jawa dengan persentase 55,86% sedangkan persentase terkecil 0,60%. Pada tahun 2022-2023, terjadi penurunan produksi sebesar 1,39%. Kementerian Pertanian mencanangkan produksi beras sebesar 86,91% pada bulan April. Produksi jagung sekarang menurun sebesar -10% jika dibandingkan dengan tahun 2022.

 

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2021, terjadi alih fungsi lahan sawah secara nasional sekitar 60-80 hektar/tahun. Produktivitas gabah kering Indonesia sebesar 5,2 ton/hektar. Indonesia memiliki potensi kehilangan hasil produksi beras mencapai 500-667 ribu ton/tahun. Sehingga Kementerian Pertanian merencanakan dua strategi besar, yaitu ekstensifikasi (perluasan area) dan intensifikasi (memaksimalkan pengelolaan lahan) serta pengamanan produksi dari banjar dan hama penyakit.

 

Beberapa solusi untuk menghadapi disrupsi climate change antara lain: mengembalikan alokasi pupuk subsidi 4,7 menjadi 9,5, pompanisasi air sungai untuk sawah tadah hujan, memanfaatkan rawa sebagai lahan pertanian, memanfaatkan sistem pertanian kering, dan menerapkan sistem pertanian sebagaimana yang telah dicontohkan Nabi Yusuf a.s. (Sayyidah K/Editor: Hafidah Munisah/Foto: Tim Media Kreatif RDK)

 

 

[ux_text font_size=”1.5″]

Saksikan videonya berikut ini:

[/ux_text]
[ux_video url=”https://www.youtube.com/watch?v=oPRaoP5nXWY” height=”50%”]

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada