Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • JS Menulis
  • Catatan Shalahuddin

Melihat Kebhinekaan dalam Jama’ah Shalahuddin

  • Catatan Shalahuddin, JS Menulis
  • 17 Oktober 2018, 07.50
  • Oleh : Jama'ah Shalahuddin UGM

Oleh: Fakhirah Inayaturrobbani

Pengantar

Jama’ah Shalahuddin (JS) merupakan lembaga dakwah kampus (LDK) intra kampus tingkat universitas yang diakui secara legal oleh Universitas Gadjah Mada. Suasana multikultural terasa kental di organisasi ini, sebab anggotanya berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan, secara sadar JS meletakkan kemajemukan menjadi modal dasar organisasi yang dicantumkan dalam pasal D. Modal Dasar Gerak Dakwah Jama’ah Shalahuddin (Jamaah Shalahuddin, 2015).

Menariknya, selain keberagaman asal suku dan budaya, dalam tubuh Jamaah Shalahuddin juga terdapat berbagai corak pemikiran Islam yang berbeda-beda dari tiap-tiap anggotanya. Hal ini dapat disebabkan, tidak sedikit anggota JS yang bergabung dengan organisasi mahasiwa baik ke-Islaman maupun umum esktra kampus UGM.  Perbedaan corak pemikiran ini dapat didasari oleh pandangan fiqih hingga implementasi syariah yang berbeda. Sehingga, mempunyai konsekuesi logis menimbulkan perbedaan pendapat dalam memandang titik penyelesaian masalah. Pada essai kali ini saya akan fokus pada keragaman corak pemikiran Islam di tubuh JS dan bagaimana JS menghadapinya.

3 Model Kebhinekaan Dalam Tubuh Jama’ah Shalahuddin

Sadar akan potensi konflik yang dapat ditimbulkan oleh keberagaman identitas corak pemikiran Islam di tubuh JS. Terdapat beberapa cara yang telah dilakukan oleh JS dalam menghadapi keragaman identitas ini. Diantaranya adalah sebuah regulasi di ranah system dimana saat menjadi pengurus JS diwajibkan untuk mengutamakan identitas JS diatas identitas pergerakan yang diikutinya di luar JS.

Identitas JS tercantum dalam Bab II. Pola umum gerak dakwah, pasal 8, yang berbunyi “Jama’ah Shalahuddin bersifat independen dan tidak berafiliasi pada organisasi massa dan organisasi sosial politik manapun, baik langsung, maupun tidak langsung.” (Jamaah Shalahuddin, 2015). Selain itu, ketua tidak diperbolehkan memegang jabatan struktural di organisasi lain (lihat Tata Gerak dan Tata Barisan (TGTB) Jamaah Shalahuddin, Bab IV Kepengurusan, pasal 11, 12 A, 15). Implikasi dari pasal berikut adalah identitas organisasi lain di luar JS diletakkan setelah identitas JS saat melakukan kegiatan organisasi di dalam tubuh JS.

Sekalipun setiap pengurus diharapkan mengedepankan identitas JS, yang dianggap lebih netral, saat sedang berada di tubuh JS atau sedang mewakili JS pada lembaga luar. Namun, pengurus dan anggota JS tidak pernah diminta untuk menanggalkan identitas pergerakan ekstra kampusnya berikut corak pemikirannya. Sehingga, dapat mudah ditemukan interaksi antar corak pemikiran Islam secara dinamis dalam tubuh JS. Performansi organisasi didasarkan pada persamaan-persamaan nilai tiap-tiap anggota yaitu berdakwah dalam satu identitas besar JS tanpa menghilangkan identitas corak pemikiran individu (deindiviuasi).

Faturrochman (2008) menjabarkan berbagai model menghadapi keragamaan dalam jurnal “Model-Model Psikologi Kebhinnekatunggalikaan dan Penerapannya di Indonesia”. Diantara lima model yang disebutkan, terdapat tiga model yang dirasa cukup mewakili dinamika kebhinekaan dalam tubuh Jamaah Shalahuddin yaitu diferensiasi mutual, identitas ganda hierarkis, dan persilangan kategori.

Secara singkat, model diferensiasi mutual, menekankan pada aspek kerjasama yang saling melengkapi dan menguntungkan diantara kelompok-kelompok yang ada tanpa mengabaikan identitas kelompok yang lebih kecil (Faturochman, 2008).

Diferensiasi mutual dapat dilihat dari aspek performansi kinerja organisasi yang menekankan pada aspek kerja sama secara komplementori (saling melengkapi). Pada tubuh JS, misalnya anggota JS yang sekaligus anggota HMI biasanya senang melakukan pengkajian dan diskusi isu kebangsaan dalam frame Islam nasionalis. Hal ini kemudian diarahkan untuk mengawal organisasi dalam penelaahan isu yang dianggap sesuai.

Sementara itu, model identitas ganda hierarkis yaitu model yang melihat bahwa manusia dapat beridentitas ganda secara vertical maupun horizontal. Misalnya, identitas kesukuan atau kedaerahan (identitas horizontal) ditempatkan pada level yang lebih rendah dibanding identitas nasional (identitas vertical) (Faturochman, 2008). Jika dalam konteks JS, maka identitas organisasi lain diletakkan setelah identitas JS.

Selain itu, identitas ganda hierarkis dilihat dari dibuatnya identitas kelompok yang lebih umum yaitu identitas JS, tanpa mengubah identitas kelompok-kelompok pergerakan yang ada secara total, identitas pergerakan ekstra kampus dalam tubuh JS lebih bersifat situasional, sehingga JS dianggap dapat mewadahi semua kelompok dalam satu identitas umum JS. Posisi identitas JS diletakkan lebih tinggi pada daripada identitas kelompok di luar JS dalam konteks organisasi. Identitas JS bersifat inklusif, sebab identitas yang lebih umum dan tinggi harus bersifat lebih terbuka (Brewer & Gaertner, 2003; Hewstone dkk., 2002 dalam Faturochman, 2008). Identitas yang lebih umum (identitas JS) inilah yang akan menjaga kontak antar kelompok agar tidak terjadi konflik dengan cara menjaga dinamika status identitas antar kelompok yang lebih kecil (Faturochman, 2008).

Terakhir, model persilangan kategori merupakan konsekuensi logis dari adanya identitas ganda hierarkis. Menariknya persilangan kategori memberikan kesempatan terjadinya titik temu dari berbagai dimensi sosial individu yang satu dengan individu lainnya, sehingga akan ditemukan lebih banyak persamaan antar individu. Oleh karena itu, kerentanan terhadap konflik dapat ditekan sedemikian rupa sebab kelompok berdiri pada asas titik temu atau persamaan-persamaan yang lahir dari persilangan-persilangan kategori itu sendiri (Faturochman, 2008). Model ini tampak dalam pola interaksi kultural organisasi. Setiap anggota pasti mempunyai ragam corak pemikirannya Islam sendiri, namun bergerak, bahkan bersenda gurau, atas dasar-dasar kesamaan yang lebih diutamakan. Hal inilah yang dinamakan dalam agama Islam, ukhuwah Islamiyyah, persaudaraan dalam keberagaman.

Kesimpulan

Dalam suatu kelompok bahkan negara dapat terjadi beberapa model kebhinekaan sekaligus yang berinteraksi secara dinamis. Seperti dalam tubuh Jamaah Shalahuddin yang majemuk, ditemukan tiga model sekaligus yaitu diferensiasi mutual, identitas ganda hierarkis, dan persilangan kategori. Ketiga model inilah yang menjadi pengikat sistemik dan kultural dalam tubuh Jamaah Shalahuddin.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Faturochman. (2008). Model-model psikologi kebhinekatunggalikaan. Jurnal Psikologi Indonesia, 1-15.

Jamaah Shalahuddin. (2015). Pasal 8. Pola Umum Gerak Dakwah. Tata Gerak Tata Barisan 1437 H, 19.

Jamaah Shalahuddin. (2015). Pasal D. Modal Dasar Gerak Dakwah . Garis-garis Besar Haluan Kerja Jamaah Shalahuddin, 5

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada