Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • Ramadhan di Kampus

Fajri Mulya Sebut “Re-think” sebagai Langkah Konkret Mengatasi Sampah

  • Ramadhan di Kampus
  • 8 April 2024, 14.05
  • Oleh :

Menutup kajian rutin Samudra RDK UGM 1445 H, pada Ahad (07/04), Ustaz Fajri Mulya Iresha, S.T., M.T., Ph.D., sebagai narasumber, mengisi keilmuan dengan pembahasan seputar permasalahan sampah dan langkahnya. Selaras dengan bidang beliau selaku konsultan lingkungan dan dosen Fakultas Teknik Sipil & Perencanaan UII, tema utama yang dibawakan, yaitu “Pengelolaan Sampah Domestik dalam Konsep Zero Waste sebagai Upaya Menjaga Bumi Allah.”

 

Topik pembahasan Ustaz Fajri merujuk pada 3 poin, diantaranya edukasi kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah, lebih khusus terkait zero waste (bebas sampah). Kemudian, tentang pengurangan penggunaan alat bahan yang menghasilkan sampah. Tidak tertinggal juga cara memilah sampah secara efektif. 

 

Mirisnya, fakta yang terjadi adalah kondisi persampahan yang kritis di Indonesia karena mendapat titel sebagai produsen sampah plastik samudra, sisa makanan, dan bencana longsor sampah nomor 2 terbesar di dunia. “Itu suatu hal yang sangat miris yang seharusnya kita berbuat sesuatu hal besar saat ini,” ungkap beliau. 

 

Masalah ini terjadi karena masyarakat Indonesia masih bergantung pada TPA (Tempat Pembuangan Akhir) dengan rasa kepedulian terhadap sampah yang minim. Lalu belum adanya sistem pengelolaan air lindi, yaitu cairan yang dihasilkan oleh sampah dari proses dekomposisi. Dampak dari ketidakjelasan pengelolaan sampah ini tidak hanya dirasakan manusia, melainkan juga hewan yang banyak mendapatkan dampak buruknya.  

 

Kondisi ini telah Allah Swt. sudah peringatkan dalam Q.S. Ar-Rum ayat 41, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” 

 

Melanjutkan pembicaraan tentang dampak sampah, hal ini juga kita rasakan pada lingkungan, diantaranya adalah pencemaran pada tanah, air, udara, hingga sungai. Sampah juga dapat mengurangi nilai estetika suatu lingkungan dan dapat menjadi penyebab atas terjadinya konflik lingkungan. Tidak hanya itu, sampah juga dapat menjadi ancaman bagi kesehatan manusia dan makhluk hidup lainnya. “Padahal Allah Swt. sudah menjadikan manusia sebagai khalifah, tetapi kenapa kita juga yang menjadikan bumi rusak,” pesan Ustaz Fajri.

 

Konsep zero waste adalah salah satu solusi untuk menyadarkan manusia tentang kerusakan ini. Filosofi yang memaksa manusia untuk menghapus, mendesain ulang produk, dan memilih barang yang dapat dipakai ulang, sehingga mengurangi beban bumi. Sama halnya dengan istilah “no burning, no landfill,” bumi tanpa pembakaran sampah dan pembuangan sampah ke TPA, manusia mengelola sampahnya sendiri  supaya minim limbah. 

 

Dilirik dari sejarahnya, zero waste telah ada sejak dahulu. Seperti halnya suku Aztec mengenali kompos dengan mengubah kotoran manusia menjadi pewarna kain, bangsa Romawi menyimpan sampah untuk dijadikan konstruksi, masyarakat Jepang menyempurnakan teknik robek dan menggunakan kembali kertas tersebut, suku Indian menggunakan bagian hewan untuk dijadikan aksesoris tradisional. Namun, mulai abad ke-19 manusia dimanjakan dengan produk industri maupun penelitian, menjadi titik balik peradaban modern. Pada abad ke-20, kembali dikenal konsep daur ulang. Lambat laun berkembang menjadi kebijakan di berbagai negara sebagai bentuk kerinduan naluri manusia untuk menjaga ke alam. 

 

Menariknya, ada keselarasan antara zero waste dengan Islam dalam 2 konsep. Pertama, tabdzir, bermakna menyia-nyiakan barang yang masih bisa dimanfaatkan, seperti botol, kertas, kardus yang masih bisa digunakan. Kedua ialah israf, tindakan berlebihan dalam penggunaan barang di luar kebutuhannya. Sedangkan dalam Islam sudah mengajarkan kedua hal yang berkaitan tersebut dalam Q.S. Al-Isra’ ayat 26 dan Q.S. Al-An’am ayat 141.

 

Oleh karena hal di atas, Ustaz Fajri memaparkan langkah konkret untuk mengatasinya melalui cara rethink (memikirkan kembali). Allah Swt. menciptakan alam untuk tempat beribadah sehingga perlu kita renungkan bagaimana manusia bisa menjaga lingkungan yang tujuan penciptaannya adalah untuk beribadah. Maka, manusia punya tanggung jawab besar dalam menjaga keseimbangan alam dan lingkungan untuk kesejahteraan hidup. 

 

Beliau menyampaikan, sudah saatnya pelayanan sampah oleh pemerintah menjadi akses universal untuk hak dasar seorang warga negara. Jika menggunakan sistem pembayaran, artinya hanya sebagian masyarakat yang mampu/ingin saja nantinya yang akan dilayani.

 

Sebagai individu, terdapat 3 langkah sederhana yang dapat kita lakukan. Pertama, taruh sampah bahan organik dalam wadah yang disediakan, sehingga sampah dapat berubah  menjadi biogas hingga kompos. Selanjutnya, taruh bahan daur ulang di tempat yang disediakan yang nantinya diambil alih oleh pemulung. Sisa dari kedua sampah tersebut ialah “real sampah” atau residu dari bahan elektronik, obat-obatan, tekstil yang sebenarnya menjadi tugas pemerintah. (Hanifah/Editor: Hafidah Munisah/Foto: Tim Media Kreatif RDK)

 

 

 

[ux_text font_size=”1.55″]

Saksikan videonya berikut ini:

[/ux_text]
[ux_video url=”https://www.youtube.com/watch?v=U3gFi3zpLac&t=3s” height=”50%”]

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada