Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • Ramadhan di Kampus

Farid Sebut Akal dan Wahyu Saling Melengkapi, Mentaati, dan Menerangi

  • Ramadhan di Kampus
  • 7 April 2024, 15.09
  • Oleh :

SAMUDRA kembali dengan menghadirkan Drs. Farid, S.Ag., M.Hum., dosen Filsafat UGM, sebagai pemateri pada Sabtu, 6 April 2024. Tema yang dibahas hari ini yaitu “Epistemologi Islam: Relasi Akal dan Wahyu”. Berdasarkan epistemologi, beliau mengajak untuk lebih bijaksana melihat kebenaran dan tidak mudah mengklaim kebenaran sebelum berpikir secara serius. Beliau melanjutkan, epistemologi dalam sudut pandang Islam berbeda dengan epistemologi secara umum karena berkaitan dengan konsep berpikir berdasarkan Al-Qur’an, Hadits, Ijma’, dsb. Materi penting dalam epistemologi Islam, yaitu menyangkut sumber pengetahuan, memadukan akal dengan wahyu, menggunakan metode pembelajaran (tadabbur, tafakkur, dan tholabul ‘ilmi), peran ulama, batasan akal, dan keterbukaan mempelajari ilmu lain. 

 

Beliau menjelaskan, sumber pengetahuan dalam Islam ada yang berupa wahyu (Al-Qur’an & Hadits), akal, indera, dan otoritas. Banyak ayat di dalam Al-Qur’an yang menjelaskan tentang akal, seperti pada Surah Ali-Imran ayat ke-190 sampai 191 yang artinya “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” Dalam ajaran Islam, manusia dianjurkan untuk berpikir dan menggunakan akalnya. Namun, Islam juga membatasi manusia dalam berpikir agar tidak terjerumus dalam kekafiran.

 

Lalu, bagaimana Islam memadukan akal dan wahyu? Sebelum menjawab hal tersebut, beliau mengajak untuk memahami konsep dari akal terlebih dahulu. Dalam Islam, akal merupakan kemampuan memahami, menalar, merenung dan menilai, bukan hanya soal logika penalaran, tetapi juga kebijaksaan dan intuisi. Maka, Islam mengajak untuk berpikir benar-salah dan baik-buruk dalam menilai kebenaran. Sedangkan pengertian akal secara umum, maknanya lebih sempit, mengacu pada kemampuan berpikir secara logis daripada intuisi dan kebijaksanaan. Akal dalam makna secara umum dapat digunakan untuk tujuan yang baik dan buruk. Berdasarkan konsep akal dalam Islam, kedudukan antara akal dengan wahyu saling melengkapi, mentaati, dan menerangi. Beliau menjelaskan dari ketiga unsur tersebut bahwa saling melengkapi artinya memahami makna Al-Qur’an dengan akal, saling mentaati artinya akal harus tunduk terhadap wahyu dan tidak boleh menentang (sehingga tidak akan terjadi pertentangan antara akal dan wahyu), dan antara Al-Qur’an dan akal harus saling menerangi, artinya akal membantu dalam memaknai wahyu tanpa pemaksaan harus logis. 

 

Terakhir, beliau menyimpulkan bahwa wahyu dan akal selalu sejalan, wahyu memberikan prinsip-prinsip yang harus diikuti, lalu akal membantu manusia memahami dan mengaplikasikannya dalam hidup. Dalam menjaga keseimbangan antara keduanya, seseorang harus terus belajar Al-Qur’an dan Hadits sambil menggunakan akalnya untuk merenungi makna dan implikasinya bagi kehidupan. Jika hilang salah satu dari keduanya, hidup tidak akan seimbang. Tanpa wahyu, hidup akan hilang arah, tanpa akal, akan mengalami kesulitan dalam memahami agama dan mengambil keputusan secara bijaksana.  (Efi Munasifah/Editor: Hafidah Munisah/Foto: Tim Media Kreatif RDK)

 

 

 

 

[ux_text font_size=”1.55″]

Saksikan videonya berikut ini:

[/ux_text]
[ux_video url=”https://www.youtube.com/watch?v=pCcJL9bafIw” height=”50%”]

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada