Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • Ramadhan di Kampus

Hadi Nur Sebut Pendidikan Bukanlah Pabrik dan Murid Bukanlah Produk

  • Ramadhan di Kampus
  • 5 April 2024, 14.41
  • Oleh :

Samudra kembali menghadirkan Ustadz Hadi Nur Ramadhan, M.A.,Wakil Sekretaris LSBPI MUI Pusat, sebagai pembicara pada kajian Samudra (04/04) dengan tajuk “Industrialisasi Ilmu: Meninjau Fenomena Pendidikan yang Berorientasi Pada Materi”

 

Hadi Nur mengawali kajian dengan menceritakan tentang Natsir yang saat itu datang untuk menjadi pembicara di UGM setelah ia baru terbebas dari penjara. Bagi Natsir, tidak ada yang namanya sekolah pemimpin. Seorang pemimpin tidak dilahirkan dari “sekolah,” tetapi pemimpin lahir dari tempaan-tempaan sosialnya. Hadi Nur menambahkan, kuliah dan sekolah adalah salah satu alat untuk menuju kesuksesan, tapi kesuksesan untuk menjadi “orang besar” seperti Natsir, Hamka dan para tokoh pendiri bangsa lainnya, memerlukan 5 M. 

 

“M” yang pertama merupakan Mujahadah (keseriusan), tanpa adanya keseriusan, tidak akan terlahir sosok besar seperti tokoh pendiri Indonesia. Yang kedua adalah mulazamah (mentor) untuk dapat menjadi magnet bagi kita untuk terus belajar. Yang ketiga adalah membaca. “Tidak ada orang “besar” di dunia ini kecuali karena ia membaca” ujar Hadi Nur. Beliau menambahkan, seseorang yang lebih mementingkan urusan perut dari pada urusan akal, sampai kapanpun tidak akan bisa mempunyai jiwa yang besar. “M” yang keempat adalah mudzakkar atau diskusi yang dapat dilakukan dalam lingkup kampus dan juga di luar kampus. “M” yang terakhir adalah menulis. Menulis adalah satu cara untuk  berpikir konstruktif. “Menulis itu adalah tanda bahwa kita pernah berpikir. Makanya para pemimpin hebat negara kita, semuanya adalah penulis” jelas Hadi Nur.

 

Beliau juga menjelaskan bahwa lembaga pendidikan tidak boleh dianggap sebagai pabrik yang hanya menjadi alat untuk menghasilkan murid yang diibaratkan seperti sebuah produk. Seorang guru yang baik hendaknya mengetahui potensi yang dimiliki oleh muridnya, sehingga guru dapat membantu mengembangkan potensi dan ilmu yang dimiliki oleh siswa menjadi bermanfaat. Hadi Nur mengatakan, “Ilmu dapat dikatakan sebagai “ilmu” jika ia menjadi manfaat bukan perusak.” 

 

Salah satu inti pendidikan adalah menanamkan nilai pada diri siswanya. Apabila pendidikan suatu lembaga itu baik, maka ia akan menciptakan ilmu yang bermanfaat, seperti halnya guru yang hebat akan melahirkan murid yang tidak kalah hebat. Kunto Wijoyo pernah berkata, apapun ilmu yang kita pelajari, haruslah membawa misi kenabian, yakni memanusiakan manusia. Mengutip dari Prof. Mahmud Yunus, Hadi Nur menjelaskan bahwa ada dalam proses melahirkan pendidikan Islam, ada 4 hal. Yang pertama, maddah, sebelum seorang guru mengajar, ia harus belajar terlebih dahulu tentang materi yang akan ia sampaikan. Selanjutnya adalah thariqah (metode), setidaknya seorang guru harus memiliki satu metode mengajar agar kelas yang ia bawa tidak membosankan. Ketiga, dosen atau guru. Pembelajaran tidak akan berjalan tanpa adanya guru yang menemani. Hadi Nur menyebutkan, poin keempat ini adalah poin yang paling penting, yaitu ruuhul-mudarris, pejuang dari seorang guru. Spirit pejuang inilah yang seharusnya ditanamkan oleh seorang guru pada diri muridnya.  

 

Pada akhir ceramahnya, Hadi Nur menjelaskan, proses pendidikan bertujuan untuk menciptakan suatu pendidikan ideal yang menekankan pada nilai adab sehingga dapat mewujudkan Indonesia yang maju, sejahtera, dan madani.(Maulida Wulandari/Editor: Hafidah Munisah/Foto: Tim Media Kreatif RDK)

 

[ux_text font_size=”1.5″]

Saksikan videonya berikut ini:

[/ux_text]
[ux_video url=”https://www.youtube.com/watch?v=c5b-wGcLvZU&list=PLZabby1QT-cdBaI2pPGNVEtt3MmMZX4zl&index=3″ height=”50%”]

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada