Arsip:

Rumah Aisyah

Rumah Aisyah 1.5 : Usaha Menjaga Jiwa

Tema : Mental Health

Sub Tema : Upaya Self-Care

Pemateri : Wirdatul Annisa, M.Psi.

Sesi Pematerian

Menurut WHO (2014), sehat jiwa ditunjukkan dengan beberapa kriteria, yaitu mengenali potensi diri, mampu mengatasi stress sehari-hari, produktif dan mampu memberi kontribusi bagi lingkungan sekitar. Dari sisi Islam, Zakiah Daradjad menyatakan bahwa sehat jiwa adalah adanya kesesuaian antara manusia dengan diri dan lingkungannya yang berlandaskan iman dan takwa, serta berorientasi pada kebahagiaan dunia dan akhirat. Sedangkan, menurut Imam Ghazali sehat jiwa akan tercerminkan dari akhlak yang baik, yang dilihat dari perilaku atau perbuatan spontan. Jiwa yang terganggu akan tampak dari berbagai aspek, yakni perasaan, pikiran, perilaku dan kesehatan fisik. Imam Ghazali juga berpendapat bahwa terdapat 5 komponen jiwa yang sehat, antara lain: Akidah yang kokoh, bebas dari penyakit hati, berkepribadian baik, produktif dalam hubungan sosial dan bahagia. Imam Ghazali menggagaskan tiga cara pembinaan akhlak untuk menjaga kesehatan jiwa: read more

Rumah Aisyah 1.4 : Faktor yang Mempengaruhi Self dan Kondisi Kejiwaan Manusia

Tema : Mental Health

Subtema : Faktor yang Mempengaruhi Self dan Kondisi Kejiwaan Manusia

Pemateri : Tika Faiza, S.Psi

Sesi Pematerian
Menurut Imam Ghazali, terdapat 5 komponen self, yaitu jasad, ruh, hati, akal dan nafsu. Jasad adalah sesuatu yang tampak dan berkaitan dengan sifat manusia yang disebut “basyariyah” (bentuk yang paling baik). Ruh adalah sesuatu yang menggerakkan kehidupan, namun pengetahuan manusia tentang ruh sangat terbatasa karena itu merupakan hak dan urusan Allah. Hati merupakan penentu segala kehidupan manusia dan hati menjadi sesuatu yang Allah lihat, dibading rupa manusia. Akal menjadi pengontrol rasional manusia, akal mampu memprediksi dan merekayasa namun memiliki keterbatasan dibanding ilmu Allah. Nafsu dari satu sisi menguntungkan, namun jika porsinya berlebihan akan merugikan dan membawa bahaya. Interaksi kelima komponen self dan faktor yang mempengaruhinya ada 3, antara lain: read more

Rumah Aisyah Seri 1 - Usaha Menjaga Jiwa. Konsep Self Manusia di Dalam Islam.

Rumah Aisyah 1.3 : Konsep Self Manusia di Dalam Islam

Tema : Mental Health
Subtema : Konsep Self Manusia di dalam Islam
Pembicara : Zahra Frida Intani, M.Psi.
Hari, tanggal : Ahad, 11 Oktober 2020
Tempat : Zoom
Waktu : 09.00 – 10.30 WIB

Sesi Pematerian

Kata “Self” banyak bentuknya jika dilihat dari sudut pandang Barat, tetapi di dalam Islam tidak ada kata “Self” melainkan digantikan dengan manusia secara spiritual menurut Imam Al-Ghazali. Manusia bukan hanya tentang fisik saja, tapi juga mempunyai komponen lainnya, salah satunya ada akal dan nafsu. Pemahaman tentang manusia juga tidak hanya berkaitan dengan tugasnya sebagai khalifah di bumi tetapi, tentang permulaan atau penciptaan manusia.

Konsep diri manusia menurut Al-Ghazali sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an. Dalam manusia terdapat elemen fisik dan spiritual. Fisik terdiri dari jasad, yang bisa dirasakan, dan indera, sedangkan spiritual terdiri dari empat aspek, yaitu ruh, qalb, nafs, dan aql. Imam Al-Ghazali berpendapat bahwa keempat aspek spiritual itu tidak seharusnya dipisahkan. Dari komponen spiritual tersebut, kita bisa mencoba memahami konsep diri manusia. Sebagaimana hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak seorang bayi pun kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah…” (HR. Bukhari-Muslim). Ketika manusia keluar dari fitrahnya, maka akan terganggu fungsi penciptaan manusia, jadi tidak bisa memahami diri sendiri dengan bertanya ke orang lain. Empat komponen penyusun diri manusia, antara lain: read more

Rumah Aisyah Seri 1 - Usaha Menjaga Jiwa. Konsep Self Manusia di Dalam Islam.

Rumah Aisyah 1.2 : Hakikat Penciptaan Manusia

Sesi Pematerian

A. Petualangan hidup manusia

Jika saat ini manusia sedang hidup di dunia, dia memiliki 2 fase kehidupan di masa lalu dan 2 fase kehidupan di masa depan. Dua fase di masa lalu ialah alam ruh dan alam rahim, sedangkan 2 fase di masa depan adalah alam kubur dan alam akhirat.

Alam ruh, yang secara keseluruhan hanya Allah Yang Maha Tahu tentang dunia ruh ini. Ruh adalah sesuatu yang membuat manusia hidup dan ini sepenuhnya urusan Allah, sebagaimana yang dinyatakan dalam firman-Nya: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: “ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (al Isra`/17: 85) Alam rahim, manusia akan berada di alam rahim selama 40 minggu. Di alam ini, terjadi peristiwa kesaksian setiap hamba bahwa Allah adalah Tuhannya, seperti yang dijelaskan dalam QS Al-A’raaf ayat 172. Kesaksian (syahadat) ini sebenarnya menjadi titik tolak seorang manusia di awal kehidupannya yang kemudian menjadi fitrah setiap manusia. Di alam rahim juga terjadi penyertaan takdir, di mana Allah subhanahu wa ta’ala menakdirkan nasib manusia. Sehingga, jika memahami konsep takdir, manusia akan mengerti bahwa segala sesuatu di kehidupannya adalah milik Allah. Pemahaman tersebut akan menjauhkan manusia dari penyakit al-wahn (Cinta dunia tetapi takut mati) yang menyebabkan dia melupakan alam kubur. Alam dunia. Kata “dunia” berasal dari kata Arab “الدنیا“ sedangkan ad-dunya sendiri berasal dari ” ُدن- ُوُدنْی- َناَد “َ yang berarti dekat, rendah, hina. Rasulullah pun mensifati dunia sesuatu yang lebih hina dibanding bangkai anak kambing. Di alam dunia, kita dipinjamkan fisik oleh Allah, yang disebut sebagai “ahsani taqwim” atau bentuk yang sebaik-baiknya. Olehnya itu, berhati-hatilah menilai sesuatu dengan pujian cantik, ejekan jelek, dll. Karena ketika kita men-judge seseorang dengan kalimat tidak cantik, secara tidak langsung kita menuduh bahwa Allah menciptakan bentuk yang tidak baik. Dunia juga berkaitan dengan benda/materi, dalam artian tempat bagi manusia secara fisik (basyariyah). Alam barzakh/alam kubur​.​ Barzakh berarti dinding yang tebal, di mana orang yang telah memasuki alam ini tidak akan bisa kembali ke dunia. Ketika masuk ke alam kubur, raga-raga manusia akan hancur di tanah kecuali para nabi dan para wali Allah. Sebab, fisik mereka senantiasa terjaga dari perbuatan maksiat yang melanggar ketentuan Allah selama di dunia. Seluruh fisik tersebut juga selalu digunakan untuk hal-hal baik yang disukai Allah. Di alam kubur juga terdapat malaikat yang bertugas memberikan pertanyaan kepada mayat serta mengazabnya. Alam akhirat​, merupakan alam terakhir yang dicapai dengan melalui hari kiamat (hari kebangkitan) terlebih dahulu. Alam akhirat disifati dengan ​safar ba’id (perjalanan yang sangat jauh) karena manusia harus melalui berbagai fase hingga sampai di tujuan terakhirnya, yaitu surga atau neraka. Bahkan surga atau neraka sendiri bersifat kekal atau selama-lamanya.

Kelima fase ini dapat dijumpai di Al-Quran dengan rinci, terkecuali alam ruh. Jika kita mengaku sering membaca Al-Quran tetapi belum mendapatkannya, mungkin kita hanya memandang tetapi tidak mendalami kandungannya. Dari kelima fase itu, dapat disimpulkan bahwa manusia berasal dari alam ruh dan berakhir di alam akhirat. Ruh datang dari Allah dan akhirat pun milik Allah, sehingga kehidupan manusia sejatinya dari Allah dan menuju ke Allah. read more

Rumah Aisyah Seri 1 - Usaha Menjaga Jiwa. Konsep Self Manusia di Dalam Islam.

Rumah Aisyah 1.1 : Sawang Sinawang

Tema : Mental Health
Subtema : Falsafah Hidup Wang Sinawang – Diskursus Cara Pandang
Pembicara : Nurul Hidayati, S.Psi.
Hari, tanggal : Ahad, 27 September 2020
Waktu : 09.00 – 10.35
Tempat : Google Meet

Sesi Materi

Ketika melihat beberapa orang di sekeliling kita dengan jalan hidup dan pencapaian masing-masing (Misal karier bagus, punya suami mapan, selalu tertolak di PTN, dll), sebenarnya kita tidak bisa menilai siapa yang paling bahagia. Hal itu karena hal-hal yang kita ketahui tidak menggambarakn kehidupan mereka secara utuh dan kita tidak tahu bagaimana masing-masing dari mereka memaknai kehidupan. Salah satu pepatah Jawa yang cukup familiar, “Sejatine urip kuwi mung sawang sinawang, mula aja mung nyawang sing kesawang” yang menurut Wikipedia artinya adalah “Hidup itu hanya tentang memandang dan dipandang, jadi jangan hanya memandang dari apa yang terlihat”. Secara kontekstual, sawang sinawang merupakan istilah yang digunakan saat membanding diri sendiri dengan orang lain, melihat dan menganggap kehidupan orang lain lebih baik dibanding kita. Padahal, setiap orang memiliki perbedaan masing-masing, baik dari latar belakang, lingkungan, keluarga, dll. read more