Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • JS Menulis
  • Hikmah

“Nikmat Dicintai Allah”

  • Hikmah, Opini
  • 14 Mei 2015, 13.59
  • Oleh : Jama'ah Shalahuddin UGM

NIKMAT DICINTAI ALLAH

Oleh Fakhirah Inayaturrabbani (Kajian Strategis JS UGM 1436 H/2015 M)

Bagaimana rasanya dicintai oleh sosok yang luar biasa?

Sebut saja jika kita menjadi murid kesayangan di sekolah, paling dicintai oleh para guru. Bahkan, kepala sekolah tak segan mengabarkan perihal kita pada setiap acara sekolah, mengabarkan bahwa kita adalah murid yang paling kompeten sekaligus anak emas beliau.

Hal ini baru tingkat sekolah. Bagaimana jika di tingkat universitas. Kita merupakan anak emas Rektor, yang kemana-mana tak lupa disebut namanya sebagai orang kepercayaan rektorat. Bagaimana rasanya?

Apalagi jika kita menjadi anak emas orang nomor satu di negri ini, sebutlah saja, presiden. Hati kita pasti melambung tinggi dan bangga bukan main.

Lalu, pernahkan kita bayangkan, bagaimana jika kita menjadi salah satu orang yang paling dicintai Dzat paling agung di dunia ini? Dzat pemilik alam semesta dan seisinya, Maharaja dari segala raja, Mahatuan dari segala tuan?

Pasti rasanya tak terdeskripsikan. Bagaimana tidak? Sebab sungguh nikmat itu tak sanggup ditebus oleh apapun di dunia ini.

Jika Allah telah mencintai seorang hamba, Ia tak segan mengumbar sayangNya ke seluruh penjuru semesta. Ia mengutus malaikat Jibril untuk mengabarkan kepada penduduk langit dan bumi bahwa Ia mencintainya. Kabar itu akan sampai ke pelosok-pelosok dunia. Tiada luput satu makhluk pun yang menerima berita gembira itu. Bahkan, mikrobia terkecil pun akan mengetahui bahwa Allah mencintai hamba tersebut. Ah, alangkah mulia dan bahagianya dicintai Allah. Bentuk rasa cintaNya tentu tak dapat disandingkan dengan penghargaan apapun yang diberikan manusia.

Abu Hurairah r.a meriwayatkan dari Rasulullah saw yang bersabda, “Jika Allah mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril (lalu dikatakan kepadanya),’Sesungguhnya, Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia.’ Maka Jibril pun mencintainya. Lalu Jibril memanggil penduduk langit (lalu berkata), “Sesungguhnya, Allah mencintai si fulan maka cintailah dia.” Maka penduduk langit pun mencintainya. Setelah itu, dia dicintai di bumi.” (Mutafaqun ‘alaih). Hadist ini juga diriwayatkan oleh Muslim dengan redaksi yang berbeda.

Dicintai di bumi artinya ia mendapat cinta di hati orang-orang yang taat beragama, orang-orang shalih, dan namanya harum di antara mereka sebagaimana yang dilakukan Allah terhadap orang-orang shalih dulu, seperti Abu Bakar dan Umar.

Bahkan Allah menjanjikan indra hamba yang dicintainya akan senantiasa dikawal, dijaga dan dilindungi dari kemaksiatan dan keburukan.

Sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari, Abu Hurairah ra. meriwayatkan dari Rasulullah saw, Beliau bersabda, “Sesungguhnya, Allah Ta’ala berfirman, “Barangsiapa memusuhi wali-Ku, Aku mengumumkan perang kepadanya, dan seorang hamba senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan yang paling aku cintai, yaitu apa-apa yang aku wajibkan kepadanya. Juga hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal sunnah sampai Aku mencintainya. Jika aku mencintainya, Aku adalah pendengarannya yang digunakan untuk mendengar, penglihatannya yang digunakan untuk melihat, tangannya yang digunakan untuk berbuat, dan kakinya yang digunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, pasti Aku memberinya, dan jika ia berlindung kepada-Ku, pasti Aku melindunginya.” (HR. Bukhari)

Wali artinya dekat, yakni orang yang dekat dengan Allah karena ia melaksanakan perintahNya dan menjauhi larangan-Nya untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Ia adalah orang yang beriman dan bertakwa.

Dicintai Dzat yang Maha Agung tentu merupakan tujuan hakiki setiap mukmin. Tiadalah posisi prestisius ini digapai dengan berpangku tangan. Tiadalah kecintanyaaNya diraih tanpa kita mencintaiNya terlebih dahulu, dan tiadalah ia diberikan kecuali hanya kepada mereka yang senantiasa mematuhi setiap sendi aturanNya.

Wallahu a’lam bishhowab

Daftar Pustaka

Ibn Hajar Al-Asqalani, Bulughul Maram, Bandung, Penerbit Khazanah, 2010.

Imam Nawawi, Nuzhatul Muttaqien, Syarah dan Terjemah Riyadhus Shalihin, Jilid 1, Edisi ke-8 , Jakarta, Al-I’tishom, 2005.

 

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada