Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • Ramadhan di Kampus

Ammi Nur Baits: Syariat Memberikan Larangan yang Sangat Tegas terhadap Zina

  • Ramadhan di Kampus
  • 2 Maret 2024, 19.29
  • Oleh :

Mimbar subuh ramadhan hari ke-11 ini dibersamai oleh Bapak Ammi Nur Baits, S.T., B.A. sebagai narasumber dengan tema Mencegah Ikhtilat sebagai Upaya Mengatasi Problematika Moral Masyarakat. Pada dasarnya laki-laki dan perempuan itu berbeda, sebagaimana dalam Qur’an Surat Ali-Imran ayat 35 memuat ungkapan wa laisa dzakaru kal-untsa yang artinya “dan tidak sama laki-laki dan perempuan”. Menjaga interaksi yang ideal dengan lawan jenis merupakan hal yang susah dilakukan pada zaman sekarang. Ada beberapa konsep yang diajarkan dalam al Quran dalam menjaga hubungan lawan jenis. 

 

Konsep yang pertama, Islam membedakan laki-laki dan perempuan. Oleh karena itu semua aturan yang terjadi pada laki-laki tidak sama dengan perempuan. Prinsip yang mengatakan bahwa laki-laki sama dengan perempuan merupakan prinsip yang tidak adil. Namun, memang ada beberapa hukum yang sama antara laki dan perempuan, seperti wajibnya sholat, puasa, dan lainnya. Hal ini tidak berlaku secara keseluruhan. Terbukti ada banyak aturan yang membedakan laki dan perempuan. Syariat mengajarkan menyamakan yang sama membedakan yang beda.  

 

Konsep kedua, Islam mengajarkan bahwa manusia harus menghindari semua potensi pelanggaran atau upaya saddudz dzari’ah (menutup setiap celah terjadinya pelanggaran). Semakin besar pelanggaran, celah yang ditutup akan semakin banyak. Besar kecilnya pelanggaran dapat dilihat dari efek samping. Contoh pelanggaran yang memiliki efek samping besar adalah zina. Zina itu dapat merusak nasab, masalah mahram, perwalian, hukum warisan, dan lainnya. Sebuah perbuatan maksiat jika dampak buruknya banyak maka nilai dosanya lebih besar.

 

 Manusia berbeda dengan binatang, manusia merupakan makhluk yang bernasab. Kejelasan suatu nasab itu berada di antara zina dan pernikahan. Nasab yang sah adalah nasab yang muncul karena proses pernikahan. Untuk itu, syariat memberikan larangan yang sangat tegas terhadap sesuatu yang berkaitan dengan perbuatan zina dan seluruh yang mengantarkannya. Sebagaimana dalam Qur’an Surat AL-Isra’ ayat 32 yang artinya “dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”. Allah tidak mengatakan jangan berzina namun jangan mendekati zina. Proses saddudz dzari’ah tadi menghalangi semua celah yang menuju pada kerusakan sudah tercantum dalam ayat tersebut, yang dilarang tidak hanya perbuatan namun juga yang mengantarkannya. Lelaki dan perempuan interaksinya telah diatur oleh agama. Salah satu diantaranya adalah larangan ikhtilat. Agar tidak terjadi interaksi yang makin parah hingga sampai praktik zina. 

 

Ada 5 hal pokok yang sangat dijaga dalam syariat, diantaranya menjaga agama, jiwa, harta, nasab dan kehormatan, serta akal. Nasab dan keturunan termasuk didalamnya, itu artinya nasab dan keturunan memang harus benar-benar dijaga dengan baik. Pada kenyataannya, praktik di lapangan jauh berbeda dari konsep ideal. Contohnya adalah saat proses tawaf yang campur antara laki dan perempuan. Posisi ini merupakan kondisi yang tidak ideal, pemisahan tidak mungkin dilakukan. Namun, upaya yang telah dilakukan adalah dalam situasi ibadah yang bisa dipisahkan mereka dipisahkan. Saat sholat laki-laki diminta kedepan dan yang perempuan ke belakang. Pemisahan dilakukan pada posisi yang bisa dipisahkan. 

 

Terakhir sebagai penutup, Ammi Nur Baits mengajak jamaah untuk berjuang menjadi seseorang yang ideal, “semoga kajian ini bisa jadi bekal bagi teman-teman yang sedang berjuang menjadi mahasiswa yang ideal baik itu dalam hal kuliah maupun interaksi dengan lawan jenis. Semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah dan kita dijauhkan dari potensi yang menyebabkan amal ibadah kita hangus karena maksiat dan pelanggaran syariat”. (Jullanar Hanun Hanifah/Editor: Hafidah Munisah/Foto: Tim Media Kreatif RDK)

 

 

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada