Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • JS Menulis

Budi Pekerti: Sebuah Tafsir Sosial dalam Ber-Media Sosial

  • JS Menulis, Karya Seni
  • 10 Desember 2024, 12.47
  • Oleh : Jama'ah Shalahuddin UGM

Malam itu, di ruang segi delapan yang dipeluk sejuknya angin malam Yogyakarta, peserta Training Kepemimpinan (TK) 2 Jama’ah Shalahuddin berkerumun, menyaksikan layar yang menayangkan sebuah film ciamik. Kebersamaan di antara peserta menghangatkan suasana, bak selimut yang melindungi dari gigil malam Yogyakarta. Di tengah itu, mereka disuguhkan sebuah film yang menghadirkan kenyataan pahit dunia modern: “Budi Pekerti”, sebuah mahakarya yang disutradarai Wregas Bhanuteja dan berhasil mengantongi 17 nominasi di ajang Festival Film Indonesia.

Film ini mengurai lika-liku kehidupan Bu Prani, seorang guru bimbingan konseling yang dihormati karena Budi Pekertinya. Namun, takdirnya berbalik tajam ketika sebuah cuplikan singkat dari peristiwa di sebuah penjual kue putu tersebar luas. Adegan itu, bak setetes tinta hitam yang merusak selembar kain putih, menodai reputasi Bu Prani. Perjalanannya untuk menjadi kepala sekolah yang sebelumnya digadang-gadang oleh banyak pihak pun sirna seketika, ditelan gelombang kritik publik yang tanpa ampun.

Di tangan Wregas, narasi “Budi Pekerti” disulap menjadi potret yang menyayat realitas kita, sebuah dunia di mana arus informasi melaju secepat LRT yang melintasi kota. Tak perlu lagi bisik-bisik gosip di tengah arisan ibu-ibu, cukup dengan sekali usap pada layar, segalanya tersebar bak amuk ombak. Media sosial menjadi ruang yang lebih padat daripada lampu merah di Sekolah Vokasi UGM pada pagi hari yang sibuk. 

Dalam film ini, Bu Prani terjebak dalam badai penghakiman dari para wali murid yang tanpa ampun menghujaninya dengan kritik. Apa yang awalnya dimulai sebagai refleksi sederhana untuk murid yang dianggap “nyeleneh”, berbalik menjadi senjata tajam yang menghakimi integritasnya. Film ini menggambarkan bagaimana serpihan kecil dari kenyataan dapat dikelirukan menjadi kesalahan fatal, menelanjangi betapa rapuhnya reputasi manusia di hadapan arus opini publik.

Dibawakan dengan cara yang realistis dan humanis, film ini tak sekadar mengajak kita menonton, melainkan turut merasakan getirnya dunia yang serba cepat ini. Wregas menyuguhkan ketegangan yang emosional, di mana benar-salah dan baik-buruk bertransformasi menjadi sekadar penilaian subjektif, layaknya dua sisi mata pisau. Setiap detik film ini adalah tamparan halus yang mengingatkan kita untuk lebih bijak dalam berperilaku di ruang publik, serta lebih arif dalam menyelami dunia maya.

Pada akhirnya, Budi Pekerti bukan hanya tentang Bu Prani yang terpaksa bergulat dengan arus deras informasi dan prasangka, melainkan juga tentang kita semua. Sebuah pesan untuk tetap memegang teguh integritas dan kesabaran, betapapun kerasnya dunia ini menggoda kita untuk melupakan jati diri. 

 

“Film ini mengajarkan kita bahwa kadang, untuk bertahan, kita tak cukup hati yang baik, namun juga keberanian untuk melawan gelombang yang ingin menjatuhkan.”

Peserta TK 2 JS –

 

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada