31Jan/12

Jambore Mentoring Nasional FSLDK : Optimalisasi Peran Mentoring Demi Terwujudnya Indonesia Madani

jambore1

Pada tanggal 28-29 Januari 2012, LDK Jama’ah Shalahuddin UGM mengikuti kegiatan Jambore Mentoring Nasional (JamMeNas) FSLDK yang diselenggarakan di Universitas Negeri Semarang. JamMeNas ini dilaksanakan sebagaisalah satu sarana untuk mengoptimalkan mentoring agama Islam dalam peranannya sebagai pilar utama konservasi moral bangsa dan mengukuhkan perannya demi terwujudnya Indonesia madani. Acara ini dihadiri oleh puskomda-puskomda(1) dari berbagai penjuru nusantara yang tergabung dalam Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus Indonesia.

23Jan/12

JS Keliling Jogja: Silaturahim ke UPY dan AMIKOM

             pgri

              Anas r.a berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang suka rezekinya ditambah dan usianya diperpanjang, maka hendaklah ia menyambung silaturahim.” (Muttafaq’alaih)

          “JS Keliling Jogja” adalah program kerja yang diusung oleh Tim Dirnas (Direktorat Nasional) LDK Jama’ah Shalahuddin UGM sebagai salah satu langkah menyambung silaturahim LDK di Jogja. Hari pertama (23/01) agenda ini diawali dengan kunjungan ke LDK Komunitas Mahasiswa Islam (KOMI) Universitas PGRI Yogyakarta. Acara diawali dengan pembukaan oleh Slamet Arinudin selaku Ketua LDK KOMI dilanjutkan dengan ta’aruf dan pemaparan struktur LDK KOMI.

22Jan/12

Mafahim Jama’ah Shalahuddin

js

(Pesan dari Alumni Jama’ah Shalahuddin tentang identitas JS)

Pak Haryanto, Direktur Kemahasiswaan Universitas Gadjah Mada, yang merupakan alumni Jama’ah Shalahuddin UGM, bercerita mengenai identitas Jama’ah Shalahuddin kepada para pengurus Jama’ah Shalahuddin 1431 H/2010 M, pada saat para pengurus tersebut melakukan silaturahim pada awal bulan Maret 2010. Saya adalah salah satu pengurus yang hadir dalam pertemuan tersebut. Beliau menceritakan asal mula dibentuknya Jama’ah Shalahuddin yang kemudian membentuk identitas Jama’ah Shalahuddin yang harus dipertahankan hingga kapan pun. Bahwasanya, saat itu- era 1976an- , kondisi perpolitikan di Indonesia sangtalah panas. Panas ini yang dilihat oleh para pendiri JS – Muslich Zainal Asikin, dkk.- adalah adanya politik tendenisus yang berlebihan oleh gerakan-gerakan mahasiswa saat itu, seperti PMII, HMI, dan GMNI. Poltik Tendenisus ini sampai berdampak kepada ranah-ranah akademik. Pak Haryanto menceritakan, dahulu jika ada mahasiswa yang memiliki afiliasi ke HMI sedangkan asisten dosennya adalah aktivis GMNI, maka nilai sang mahasiswa tersebut akan dikurangi, sebaliknya jika sama-sama dari GMNI, maka nilainya dibaguskan. Contoh lain, ketika ada aktivis GMNI yang sholat, maka langsung dicurigai, ”lah, kamu jadi anak HMI ya?”. nah hingga sebegitunya.

19Jan/12

Pengemban Dakwah Islam yang Seharusnya

dakwah2

Umat Islam tidak akan terbelakang atau mengalami kemunduran dari posisi kepemimpinannya atas dunia ketika tetap berpegang teguh terhadap agamanya. Kemunduran umat islam akan tampak ketika mereka mulai meremehkan dan meninggalkan ajaran agamanya, serta membiarkan prinsip pemikiran-pemikiran libealistik-sekularistik bercokol di benak umat islam. Alhasil, keterjajahan, kehinaan, penindasan, keterendahan harga diri, hingga masalah keterbelakangan pendidikan dan kesejahteraan, menjangkit pada tubuh umat islam dewasa ini. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk mengembalikan posisi umat islam dengan menumbuhkan dakwah islam yang berorientasi pada pembentukan qiyadah fikriyah islamiyah atau kepemimpinan berfikir islami. Pembentukan qiyadah fikriyah islam ini adalah dalam rangka mengembalikan kebangkitan umat Islam, karena hanya dengan mabda islam sajalah kebangkitan yang hakiki itu akan terwujud.

19Jan/12

Still Thinking Conventional?

ekonomi syariah

The gap between the welfare level of rural communities and the city became a vital issue to be discussed at this time. Media Indonesia said Indonesia’s economic growth is considered not yet inclusive and is unable to answer the problem of income inequality. Economic gaps still occur because the government has not seriously considered oriented towards the creation of a equitable economy. From BPS data 2010, Indonesia Gini Coeffecient edged down just 0.12 over the last five years. Gini Coeffecient of 0.331 recorded in 2010, while in 2005 at the 0.343 level. However, it also revealed that income improvements occurred only in urban, from 0.362 in 2009 to 0.352 in 2010. In contrast, income inequality in rural communities to widen even more Gini Coeffecient rose from 0.288 to 0.297.

As a result of this prosperity gap levels arise various problems that we can not take lightly. Issues such as the disintegration of the nation, distrust to government, destruction of infrastructure and other so often occurs in response to the injustice felt by the community.