Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • JS Menulis
  • Hikmah

Refleksi Paruh Musim

  • Hikmah
  • 6 Juli 2008, 07.05
  • Oleh : Jama'ah Shalahuddin UGM

Oleh: Edi Nugroho (Hukum 2005, Ketua Jama’ah Shalahuddin UGM 1429 H)

(Sempat terhapus dari website JS. Diterbitkan kembali 27 Juli 2019 dengan perbaikan ejaan)

Ingatkah antum dengan sumpah jabatan yang terucap beberapa waktu lalu? Di kala mata sudah mulai menggelayut, di saat raut wajah mulai kusut, sayup-sayup terdengar suara yang memecah keheningan. Itulah sang pemimpin baru, beribu harap perbaikan dapat dihadirkan di tengah kekeringan kalbu. Ikhwah, jika antum ingat pula dengan penggalan ayat Al Qur’an, maka hal tersebut sejalan dengan kaidah yang ada dan menjadi petunjuk serta motivasi dasar bagi umat Islam.

in uriidu illal ishlahu mastatho’tu, wama taufiqiy illa billah, alaihi tawwakaltu wa ilaihi unib

Artinya: Aku hanya bermaksud mendatangkan perbaikan selama berkesanggupan, hanya kepadaNya aku mengikuti petunjuk, kepadaNya pula aku bertawakal dan tempat dikembalikan.

Jelaslah kiranya ayat ini menjadi landas gerak bagi kita para du’ad dalam mengusahakan tumbuh berkembangnya benih yang kita semaikan di bedeng da’wah kampus. Tidak ada alasan untuk tidak bergerak dalam pencapaian perbaikan da’wah kampus, ya akhukum. Kalau antum masih merasa bahwa belum mendapat sesuatu yang diharapkan dan dicita-citakan, lebih baik antum mundur dari barisan ini. Ladang ini tidak membutuhkan sesosok yang tidak bervisi dan tidak bisa mengembangkan kepentingan bersama. Jangan berharap lebih dari sebuah barisan da’wah, karena ia tidak akan memberimu sebuah kepuasan lahiriah. Berharaplah engkau akan memdapatkan ridha Allah, berharaplah engkau mendapat ni’mat surgaNya, dan berharaplah engkau terhindar dari siksa neraka. Insya Allah engkau akan menjadi bagian yang senantiasa bertahan dalam barisan ini, barisan para pejuang, barisan para pengorban, barisan para manusia yang hendak meraih derajatnya.

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada