Universitas Gadjah Mada Jama'ah Shalahuddin
  • Home
  • Ramadhan di Kampus

Memahami untuk Mencintai

  • Ramadhan di Kampus
  • 15 Maret 2024, 16.18
  • Oleh :

Pada Kamis, 14 Maret 2024, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Aset, dan Sistem Informasi UGM, Arief Setiawan Budi Nugroho S.T., M.Eng., Ph.D., mengingatkan pentingnya memelihara ukhuwah (persaudaraan) di tengah-tengah tahun politik saat ini dalam ceramahnya pada agenda Ramadhan di Kampus Masjid Kampus UGM. Menurutnya, keberadaan tahun politik tidak boleh membuat ukhuwah pecah. Sebagai salah satu upaya memperkokoh persatuan, UGM telah menyelenggarakan beberapa kegiatan, yakni diskusi dengan tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam negeri.

 

Salah satu kegiatan yang diadakan adalah diskusi dengan Gus Baha dan Quraish Shihab pada 4 Maret 2024 lalu dengan pembahasan merawat ukhuwah dan menjaga persatuan bangsa. Selain itu juga pada Grand Opening Ramadhan di Kampus pada 9 Maret 2024 yang membahas mengenai Muslim Development Goals dengan fokus pada integrasi. Kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan dapat memperkuat integrasi bangsa dengan memanfaatkan momentum Ramadan.

 

Dalam konteks pemahaman agama, Arief menyoroti pentingnya memahami Alquran dengan baik. Dia menekankan bahwa Alquran bukanlah sekadar kumpulan dongeng belaka, melainkan kitab suci yang mengandung ayat-ayat yang memiliki makna muhkamat (jelas) dan mutasyabihat (harus ditafsirkan oleh ahli).

 

Namun, Arief juga menyoroti bahwa banyak manusia hanya membawa Alquran tanpa memahaminya secara mendalam. Dia menekankan bahwa ilmu pengetahuan akan terus berkembang, namun semua prinsip dasar telah ada dalam ajaran Islam. Oleh karena itu, kritis boleh, tetapi perlu diiringi dengan pembelajaran yang mendalam. “Kritis itu boleh, tetapi belajar dulu,” imbuhnya. 

 

Dalam hal cinta, Arief menyatakan bahwa cinta tidak selalu bermain dengan akal, tetapi dengan hati. “Maka bicara masalah cinta yang letaknya di hati, itu nggak gampang hilang,” kata Arief saat menjelaskan bahwa memori manusia yang paling dalam adalah di hati. Maka apa-apa yang berkaitan dengan hati akan selalu lekat, termasuk itu masalah cinta. Sebagai seorang muslim, tentunya cinta terkekal adalah cinta pada-Nya, sesuai tajuk pada ceramah kali ini, “Cinta Kepada-Nya Sebagai Bagian Manifestasi Taqwa”.

 

Dia menjelaskan bahwa dalam Alquran, kebenaran tidak selalu bisa dibuktikan dengan akal, tetapi dengan hati. Oleh karena itu, jika seseorang ingin mencintai agama, dia harus mengenalinya. Bagi umat Islam, mengenal agamanya berarti memahami Alquran secara mendalam, karena bagaimana mungkin kita mencintai yang menulis Alquran jika kita tidak memahami-Nya dengan baik. (Hanung Maura/Editor: Hafidah Munisah/Foto: Tim Media Kreatif RDK)

 

 

[ux_text font_size=”1.5″]

Saksikan videonya berikut ini:

[/ux_text]
[ux_video url=”https://www.youtube.com/watch?v=G4S1BY7FU2Y” height=”50%”]

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada