Universitas Gadjah Mada Jama'ah Shalahuddin
  • Home
  • Ramadhan di Kampus

Guru Besar FISIPOL UGM Bagikan Wawasan dan Kegelisahan Mengenai Kemiskinan Struktural

  • Ramadhan di Kampus
  • 23 Maret 2024, 16.04
  • Oleh :

Pemerintah atau perumus kebijakan berasumsi bahwa kemiskinan adalah kelangkaan uang atau kelangkaan barang dengan solusi bantuan sosial (bansos). “Saat ini kita memiliki kegelisahan akademik yang disebut sebagai kemiskinan struktural, manifestasinya hanya dalam discourse akademik, dalam praktik kebijakan kalau ada ya samar-samar” ujar Prof. Dr. Purwo Santoso, M.A., Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM dalam ceramah tarawih Ramadan Public Lecture 1445 H, Jum’at (22/3) yang diselenggarakan di Masjid Kampus UGM.

 

Kemiskinan struktural merupakan produk dari struktur kehidupan bermasyarakat. Cara bertransformasi, cara memproduksi atau berjualan makanan dapat menjadi sumber ketimpangan. Dari hubungan yang timpang tersebut, kajian kemiskinan struktural hanya disukai oleh orang-orang yang membagi kelas lalu yang tersisih dicarikan jalan keluar dengan melawan, sehingga terciptanya ketegangan sosial seperti protes. “Wacana strukturalis yang metodologinya diproduksi oleh orang-orang kiri, itulah yang menjadikan wacana itu bisa bertahan dan solusinya bersifat struktural” ujar Prof. Purwo.

 

 Ketika terdapat masalah, maka solusinya adalah Hak Asasi Manusia (HAM). Sejauh ini, negara belum bisa menjanjikan pemberantasan kemiskinan untuk menjamin hak asasi warga negaranya. Faktanya, jika Indonesia sudah memiliki kebijakan penanggulangan kemiskinan bertahun-tahun yang lalu, maka saat terjadi masalah akan dapat teratasi dengan baik. Wawasan strukturalis yang tidak diadopsi oleh pemerintah, sangat memungkinkan tidak adanya jalan keluar dari permasalahan kemiskinan struktural karena tidak menembus atau tidak menempa struktur. 

 

 Belajar dari sejarah Utsman bin Affan, pada saat itu mulai dilembagakan baitul-maal (rumah untuk mengumpulkan atau menyimpan harta) yang sekaligus menjadi solusi untuk permasalahan masyarakat dalam konteks penanggulangan kemiskinan dan juga bertujuan sebagai tanggung jawab dari negara untuk mensejahterakan masyarakat. Negara belum berani menjanjikan zero poverty (nol kemiskinan) kepada masyarakat seperti zaman khalifah Utsman bin Affan, karena ukuran kemiskinan yang bergeser seiring berjalannya waktu dan garis kemiskinan juga dirumuskan dari waktu ke waktu. 

 

Selanjutnya, Prof Purwo berbicara mengenai kesejahteraan rakyat, bahwa maksud dari mensejahterakan pada level minimal adalah dengan tidak adanya kemiskinan sehingga adil dan makmur dapat direalisasikan. Namun karena watak kemiskinan bersifat struktural dan watak struktural tidak pernah disiasati dengan strategi yang seksama, maka belum terlaksana solusi yang tepat.

 

Solusi yang mungkin bisa terealisasikan yakni, ketika baitul-maal menjadi tata kelola makro untuk menanggulangi kemiskinan, maka masyarakat akan lebih kontributif sambil mensucikan harta dengan pemetaan cara yang tepat supaya efek yang diberikan lebih signifikan.  (Fatiya Auliya/Editor: Hafidah Munisah/Foto: Tim Media Kreatif)

 

 

 

[ux_text font_size=”1.5″]

Saksikan videonya berikut ini:

[/ux_text]
[ux_video url=”https://www.youtube.com/watch?v=RwLsMKHeJPk” height=”50%”]

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada