Universitas Gadjah Mada Jama'ah Shalahuddin
  • Home
  • Ramadhan di Kampus

Wihana Kirana Menyebutkan Peningkatan Kendaraan Pribadi di Indonesia Rata-rata 8 Persen per Tahun

  • Ramadhan di Kampus
  • 26 Maret 2024, 14.01
  • Oleh :

Kajian Safari Ilmu di Bulan Ramadhan (Samudra), pada hari Senin tanggal 25 Maret 2024 dibersamai oleh 2 pembicara, yaitu Prof. Wihana Kirana Jaya, M.Soc.Sc.,Ph.D, Staf Khusus untuk Urusan Ekonomi dan Investasi Transportasi Kementerian Perhubungan RI, dan Prof. Dr.Ir. Agus Taufik Mulyono, M.T.,IPU.,ASEAN.Eng., Guru Besar Fakultas Teknik UGM. Keduanya membawakan tema bertajuk “Penggunaan Transportasi Publik Berkelanjutan dalam Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca”

 

Wihana Kirana menyebutkan, peningkatan kendaraan pribadi di Indonesia rata-rata 8% pertahun dalam 5 tahun terakhir. Modal share angkutan umum di kota Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Medan, hanya berada dibawah 20% dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura, Bangkok, dan Kuala Lumpur. Tingkat kemacetan di Jakarta pun tergolong tinggi, jika dibandingkan dengan Bangkok dan Mexico City. Hal ini mengakibatkan kerugian ekonomi akibat kemacetan di Jakarta sebesar 65 T/tahun.

 

“Aktivitas ekonomi baru dapat berjalan dengan baik setelah berjalannya activity sustainable (energi hijau)” ujar Prof Wihana. Untuk mencapai sustainable tersebut, terdapat 3 tahapan yang harus dilakukan, yaitu standar perubahan dengan pendekatan holistic yang dibuat dengan tujuan agar masyarakat perkotaan tidak lagi menggunakan kendaraan pribadi, seperti menerapkan sistem TOD (Transit Oriented Development), konsep ini diharapkan dapat menyediakan kawasan transit yang nyaman dan memberikan kemudahan bagi warga sekitar untuk melakukan aktivitas sehari hari. Kemudian, membuat moda-moda kendaraan umum seperti bus, MRT, Trans Jakarta, Commuter Line, dan Kereta Cepat, kendaraan umum tersebut telah mendapatkan subsidi dari Pemerintah agar masyarakat mulai beralih pada kendaraan umum. Lalu yang terakhir, electric vehicle, ekosistem ini harus diperluas guna menciptakan ruang hijau, kemudian pemerintah juga memperbaiki aturan-aturan yang ada, seperti memberi subsidi pada kendaraan listrik.

Untuk mencapai 3 hal tersebut, terdapat 5 syarat yang harus dimiliki. Pertama, semua mindset kita harus diubah, memperbaiki regulasi menuju sustainability, bisnis proses menggunakan proses digital tracking, organisasi, kurikulum berbasis hijau, dan insentif. Hal ini bertujuan agar semua pelaku ekonomi diatur dengan sustainability. 

 

Taufik Mulyono juga menyampaikan, dalam membangun infrastruktur transportasi terdapat 4 karakter yang harus dipenuhi, dikembangkan untuk umur yang panjang, berupa jaringan atau network, digunakan bersama oleh publik, dan kualitas layanan akhir yang baik. “Saya ingin menyampaikan bagaimana pentingnya membangun transportasi yang humanistik” ujar beliau. Humanistic minded yaitu transportasi yang mampu mengedepankan nilai manusia dan nilai kemanusiaan untuk meningkatkan produksi ekonomi yang jauh lebih baik.

 

Kecelakaan yang disebabkan Pelanggar lalu lintas sebagian besar didominasi oleh 45,0% Milenial. Tetapi disisi lain, milenial memiliki potensi kekuatan besar untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik, yaitu mampu mengumpulkan massa, mengubah kekuasaan, mengubah trend, dan mengubah teknologi. Potensi ini dapat Mengubah Keadaan menjadi lebih baik.

 

Sebagian manusia di negara-negara maju sudah menyadari bahwa karbonisasi dapat menyebabkan berbagai persoalan, seperti pemanasan bumi yang menyebabkan permasalahan ekonomi, gagal panen dan sebagainya. Namun di Indonesia, menurut Taufik Mulyono, dekarbonisasi sulit dipersoalkan, karena salah satu akar masalahnya,  yaitu budaya kita masih menganggap menggunakan mobil adalah status sosial.

 

Terdapat 3 penghasil karbon terbesar di indonesia, Pembangkit Listrik Tenaga Uap, Industri dan Transportasi. Karbonisasi mengakibatkan pemanasan global, yaitu kerugian sektor ekonomi, kerugian biodiversitas, pengaruh kesehatan manusia, ekosistem tidak stabil, kenaikan permukaan laut, perubahan pola cuaca. Persoalan akar permasalahan sosial budaya di Indonesia belum selesai sehingga sulit diselesaikan jika tidak ada kesadaran individu masing-masing. 

 

Aksi Mitigasi Karbonisasi Transportasi dilakukan 3 kegiatan yang dilakukan Pemerintah, yang pertama, pengembangan angkutan umum, yang kedua, modal share (penambahan jumlah jaringan jalan), yang ketiga,  menggunakan listrik sebagai energi di masa kini. “Sehingga nanti, jika ada angkutan umum, mari kita naik angkutan umum, selama angkutan umum tersebut memadai” tutup prof Agus. (Dzurrotunnisa/Editor: Hafidah Munisah/Foto: Tim Media Kreatif RDK)

 

 

 

[ux_text font_size=”1.5″]

Saksikan videonya berikut ini:

[/ux_text]
[ux_video url=”https://www.youtube.com/watch?v=8eBE9Ectyak&list=PLZabby1QT-cdBaI2pPGNVEtt3MmMZX4zl&index=7″ height=”50%”]

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada