Buya Hamka: Kelahiran dan Dinamika Intelektual (Part I )

Oleh : Egi Fajar Mauludy

Departmen Kajian Strategis Jamaah Shalahuddin UGM

Siapa tak kenal Buya HAMKA (1980 – 1981) atau Prof. DR. Haji Abdul Malik Karim Amrullah? Dengan beberapa karyanya yang fenomenal hingga kini. Siapa para kalangan muda dizaman sekarang yang tidak mengenal romannya, Tenggelamnya kapal van der wijck? Dibawah lindungan ka’bah?

Beliau di lahirkan di Sungai Batang Maninjau (Sumatera Barat) pada 16 Februari 1908 (13 Muharram 1326 H) dari kalangan keluarga yang taat beragama. Ayahnya ulama terkenal, Dr. Haji Abdul Karim Amrullah alias Haji Rasul, pembawa paham-paham pembaharuan Islam di Minangkabau.[1]

Beliau adalah sosok mufasir melalui Tafsir Al-Azhar-nya, sastrawan melalui roman-romannya, sejarawan melalui sejarah Islamnya, sufi melalui Tasawuf Modern-nya, atau da’i dengan retorikanya yang mampu menarik simpati dari siapa yang mendengarnya.

Banyak yang mengatakan bahwa beliau adalah seorang otodidak[2], beliau memperdalam sendiri berbagai bidang ilmu pengetahuan, seperti sastra, budaya, filsafat, tasawuf, sejarah, sosiologi dan politik, baik islam maupun barat. namun jika kita melihat perjalanan atau dinamika intelektualnya tidaklah segala pemikirannya itu beliau peroleh sendiri hanya dengan buku tanpa guru.

Dalam Usia 6 tahun (1914) beliau dibawa ayahnya ke Padang Panjang. Sewaktu berusia 7 tahun beliau dimasukan ke sekolah desa yang hanya sempat dienyam 3 tahun dan malamnya belajar mengaji Al-Qur’an dengan ayahnya sendiri hingga khatam. Dari tahun 1916 – 1923, beliau telah belajar agama pada lembaga pendidikan yaitu “Diniyah School” dan “Sumatera Thawalib” di Padang Panjang dan di Parabek, akan tetapi beliau tidak memiliki ijazah. Guru-gurunya waktu itu ialah Syaikh Ibrahim Musa Parabek, Engku Mudo Abdul Hamid Hakim, dan Syaikh Zainudin Labay el-Yunusiy.[3]

Diantara metode-metode yang digunakan guru-gurunya, hanya metode dari Engku Zainuddin Labay el-Yunusy lah yang menarik hatinya. Pendekatan yang dilakukan oleh Engku Zainuddin, bukan hanya mengajar (transfer of knowledge), akan tetapi juga melakukan proses “mendidik” (transformation value). Melalui Diniyah School Padang Panjang yang didirikannya, ia telah memperkenalkan bentuk lembaga pendidikan Islam modern, menggunakan buku-buku di luar kitab standar, serta memberikan ilmu-ilmu umum seperti: bahasa, matematika, sejarah, dan ilmu bumi. Dari sinilah terbuka dengan lebar wawasan dan cakrawala intelektualnya.[4]

Di tahun 1924 beliau hendak berangkat menuju Yogyakarta, dikarenakan ketidakpuasan atas sistem pendidikan tradisional atau pelaksanaan pendidikan pada waktu itu serta kegelisahan intelektualnya guna menambah wawasannya. Sesampainya di Yogyakarta, ia tidak langsung ke Pekalongan. Untuk sementara waktu beliau tinggal bersama pamannya, Ja’far Amrullah di desa Ngampilan. Bersama dengan pamannya, beliau diajak mempelajari kitab-kitab klasik dengan beberapa ulama waktu itu, seperti Ki Bagus Hadikusumo (tafsir), R.M. Soeryopranoto (sosiologi), K.H. Mas Mansur (filsafat dan tarikh Islam), Haji Fachrudin, H.O.S Cokroaminoto (Islam dan Sosialisme), Mirza Wali Ahmad Baig, A. Hasan Bandung, terutama A.R. Sutan Mansur.[5]

Selama di Yogyakarta beliau sangat beruntung bisa berkenalan dan sering melakukan diskusi dengan teman-teman seusianya yang memiliki wawasan luas dan cendekia. Mereka antara lain Muhammad Natsir. Di sini beliau mulai berkenalan dengan ide pembaruan gerakan SI dan Muhammadiyah yang dipimpin oleh A.R. St Mansur. Disini ia melihat perbedaan yang demikian terlihat antara Islam yang hidup di Minangkabau (statis, tradisional, dan terseret pada pertikaian khilafiah) dengan Islam yang hidup di Yogyakarta (dinamis, modern, memusatkan diri pada perjuangan untuk memajukan kaum muslimin dari keterbelakangan dan ketertindasan).[6]

Kemudian pada tahun 1925, beliau berangkat ke Pekalongan dan tinggal selama 6 bulan bersama iparnya, A.R. St. Mansur. Disinilah beliau diperkenalkan dengan ide-ide pembaruan atau pemikiran Jamaludin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha yang berupaya mendobrak kebekuan umat. Dan akhirnya ide-ide pemikiran tersebut mempengauhi wacana pembaruan yang dilakukannya.[7]

Pada Juni 1925, beliau pulang ke Maninjau, dengan membawa semangat dan wawasan baru tentang Islam yang dinamis. Adapun buah harga yang dibawanya adalah beberapa buah karya yang memuat pemikiran dinamis ilmuwan muslim waktu itu, yaitu Islam dan Sosialisme (kumpulan dari semua pidato H.O.S. Cokroaminoto) dan Islam dan Materialisme (salinan merdeka A.D. Hani atas karangan Said Jamaluddin al-Afghani).[8] Dengan buah pengalamannya itu beliau telah berani tampil berpidato di muka umum. Untuk lebih membuka wawasannya beliau mulai berlangganan surat kabar dari Jawa, melalui surat kabar tersebut, ia banyak pula bekenalan dengan ide-ide pembaruan dan pergerakan umat Islam, baik Indonesia maupun luar negeri, seperti H. Agus Salim, Ir. Soekarno, Mustafa Kemal Attaturk, Ibnu Sa’ud, Sa’ad Zaghlul Pasya, Syarif Husein dan lain sebagainya. Meskipun kegandrungan ide pembaruannya makin menggelora, bukan berarti beliau lupa untuk mendalami adat Minangkabau. Inilah kelebihannya. Beliau mempelajari adat Minangkabau dengan Dt. Singo Mangkuto.[8]
[1] Samsul Nizar, Memperbincangkan Dinamika Intelektual dan Pemikiran HAMKA tentang Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2008), hlm. 15

[2]Sebuah pengantar dari Azyumardi Azra dalam buku Samsul Nizar, Memperbincangkan Dinamika Intelektual dan Pemikiran HAMKA tentang Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2008)

[3]Ibid, hlm. 19-20

[4]Ibid, hlm, 21

[5]Ibid, hlm, 23-24

[6]Ibid, hlm, 27

[7]Ibid, hlm, 27

[8]Ibid, hlm, 27-28

 

One thought on “Buya Hamka: Kelahiran dan Dinamika Intelektual (Part I )

  1. Thank you for the sensible criitque. Me & my neighbor were just preparing to do a little research on this. We got a grab a book from our local library but I think I learned more from this post. I’m very glad to see such wonderful information being shared freely out there.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *