Refleksi Jum’at Edisi II: Ikhlas Sebagai Inti Ajaran Islam

 

Di antara tanda memiliki niat baik dalam melaksanakan suatu pekerjaan adalah tidak malas, panik, atau putus asa tatkala menemui kesulitan atau kendala. Orang yang baik niatnya, pada kenyataan tak gampang menyerah dan kepada Allah senantiasa berserah. Bila niat ikhlas tidak saja menentukan diterimanya suatu amal, namun juga bisa melipatgandakan pahala, tentu ikhlas adalah ajaran yang sangat penting. Bahkan Syekh Ibn Taimiyyah menyebutnya sebagai inti ajaran Islam. Dalam salah bab pada kitabnya yang berjudul al-Tuhfah al-‘Iraqiyyah fi’ al-A’mal al-Qalbiyah, Syaikh Ibn Taimiyyah menjelaskan bahwasanya ikhlas sebagai inti ajaran Islam.

Kesungguhan dan keikhlasan adalah wujud iman dan Islam. Penganut agama Islam terbagi dua: mukmin dan munafiq. Keduanya dibedakan oleh kesungguhan, sebab dasar kemunafikan adalah kepura-puraan. Allah menyandingkan hakikat iman dengan kesungguhan. Allah berfirman, “Orang-orang Badui berkata, ‘Kami telah beriman.’ Katakan kepada mereka, ‘Kamu belum beriman, tetapi katakan kami telah tunduk, karena iman belum masuk ke dalam hatimu. Jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ Sesungguhnya orang-orang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang sungguh-sungguh.” (Al-Hujurat: 14-15).

Allah juga berfirman, “Para fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan rida-Nya, dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya; mereka itulah orang-orang yang sungguh-sungguh.” (Al-Hasyr: 8)

Ayat ini mengukuhkan bahwa orang yang benar-benar beriman adalah mukmin yang tidak sedikit pun disergap rasa ragu, kemudian berjuang di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Inilah janji yang diambil Allah dari semua orang sejak dulu hingga sekarang.

***

Ikhlas Sebagai Inti Ajaran Islam

            Ikhlas merupakan inti ajaran islam. Sebab, islam berarti pasrah atau berserah diri kepada Allah, bukan yang lain. Allah berfirman, “Allah membuat perumpamaan (yaitu) seseorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); adakah kedua budak itu sama ?” (Az-Zumar: 29)

Orang yang tidak berserah diri kepada-Nya berarti sombong. Sedangkan pasrah kepada-Nya dan juga kepada selain-Nya berarti syirik. Sombong dan syirik berlawanan dan bertentangan dengan keberserahan diri (islam). Allah berfirman, “Ketika Tuhan berfirman kepadanya, ‘Tunduk patuhlah !’ Ibrahim menjawab, ‘Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.’”(Al-Baqarah: 131)

Dasar Islam adalah kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah. Kesaksian ini meniscayakan ketundukan hanya kepada-Nya semata dan tidak kepada yang lain. Islam merupakan satu-satunya agama yang diterima di sisi Allah sejak dahulu hingga saat ini.

Demikian ikhlas dimaknai sebagai inti ajaran Islam. Ikhlas dalam berilmu, ikhlas dalam bertauhid (Syekh Abdul Qadir Al Jailani), ikhlas dalam beramal, ikhlas dalam berkarya, ikhlas dalam berjuang serta lainnya. Ikhlas menjadi core atau inti dari seorang insan atau manusia. Tanpa perhiasan ikhlas, setiap ilmu pengetahuan, amal, maupun karya seorang manusia hanya bernilai rendah di mata sang Ilahi, Allah SWT. Oleh karenanya, seorang Syekh Ibn Taimiyyah yang notabene ulama besar dalam khazanah pemikiran Islam menyebut “Ikhlas Sebagai Inti Ajaran Islam”.

Oleh Najmi Wahyughifary -Kajian Strategis JS UGM 1436 H/2015 M-

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *