Forum Mengeja Hujan #11: Fiqih

Forum Mengeja Hujan #11

Forum Mengeja Hujan #11: Fiqih bersama Ustadz Anton Ismunanto, S.Pd., M.Pd., pada 7 Agustus 2021. Rekaman seluruh kegiatan Forum Mengeja Hujan dapat diakses di bit.ly/RekamanFMH 

FIQIH

Seiring perkembangan waktu, fiqih merupakan ilmu yang maknanya meluas hingga menuju ke tahap problematis. Ketika problem meluas, akhirnya banyak muncul kategori fiqih. Perkembangan-perkembangan yang berlaku itu tidak sederhana, melihat bagaimana penyambungan Al-Qur’an dan hadits pada persoalan sekitar. Para sahabat yang paham Al-Qur’an dan hadits, ketika menghadapi suatu persoalan di wilayah masing-masing, seperti Mesir (bekas peradaban Alexsandria), Syam (belakangan dikuasai Romawi), Irak (bekas Persia), Hijaz (Mekkah yang merupakan tempat dominan turunnya Al-Qur’an), Madinah (banyak sahabat nabi dan hadits). Berdasarkan perbedaan wilayah itu, penalaran para sahabat terpengaruh. Proses penyaringan hadits menjadi ketat dan terdapat proses deduksi satu hadits menjadi turunan-turunan yang berdasar pada penalaran berbeda-beda di Kufah. Di Madinah, terdapat banyak sahabat dan hadits yang memotret satu kasus yang berbeda dengan kasus lama. Sementara di Mekkah, Al-Qur’an lebih kuat. Berdasarkan hal tersebut, muncul Imam-Imam yang berbeda, misalnya Abu Hanifah.

Ketika mereka banyak hadits, penalaran tidak terbatas. Di Mekkah, kita bertemu Imam Syafi’i dan akan bertemu orang Kufah (ahli penalaran), sehingga akan menghasilkan Madzhab besar. Ada beberapa Madzhab yang berkembang besar dan ada juga beberapa Madzhab yang tidak berkembang besar. Ketika mencermati fiqih dari madzhab yang berbeda-beda, maka akan ada kesepakatan seperti ijtihad. Terlepas dari nabi berijtihad atau tidak, ada salah seorang sahabat yang berijtihad di depan nabi dan di cek langsung oleh nabi. Berkenaan dengan madzhab-madzhab ini, kita akan mengenal banyak imam madzhab seperti Maliki, Hanafi, Syafi’i, dan Hambali.