Berbagai Kerusakan Lingkungan di Indonesia

Berbagai Kerusakan Lingkungan di Indonesia

Oleh:

  • Thariq Rahman Aly
  • Nada Kamila Rusyda
  • Pandega Abyan Zumarsyah

Indonesia yang Kaya Raya

Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam yang luar biasa, sebagaimana yang banyak dipamer-pamerkan dalam lagu-lagu klasik, puisi, dan pidato para anak dan pemuda di jenjang sekolah. Kekayaan Indonesia yang begitu banyak seolah-olah tidak akan habis. Dengan pengelolaan yang berkelanjutan/sustainable, maka betul kekayaan alam Indonesia dapat memberikan kesejahteraan bagi bangsa. Namun kenyataannya tidak seperti itu.

Kekayaan alam Indonesia terkenal sampai ke mancanegara. Di era globalisasi ini, kerja sama internasional makin marak terjadi. Demi memperbaiki ekonomi Indonesia, para investor asing disambut dengan baik untuk mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia melalui investasi multinasional. Namun, selain memperbaiki ekonomi Indonesia, perusahaan multinasional yang mengeksploitasi alam Indonesia memberikan dampak buruk pada alam. 

Berbagai Kerusakan Lingkungan dari Perusahaan

Telah terjadi beberapa kasus kerusakan alam yang disebabkan oleh perusahaan – perusahaan tersebut seperti kasus Teluk Buyat oleh PT. Newmont Minahasa Raya tahun 2004, kasus limbah merkuri di Nanggroe Aceh Darussalam oleh PT. Exxon Mobil Oil Indonesia tahun 2005, dan kasus minyak montara di Laut Timor oleh PT. TEP Australia (Ashomre Cartier) di tahun 2009. Selain itu, ada pula kerusakan alam yang disebabkan oleh PT. Freeport Indonesia.

Terdapat beberapa kasus kerusakan alam oleh PT. Freeport yang sudah dilaporkan di media massa. Pada tahun 2004 – 2017, terjadi bencana longsor yang berlangsung beberapa kali setahun. Bencana longsor tersebut disebabkan oleh lokasi pertambangan yang memang rawan. Namun, PT. Freeport tetap meningkatkan produksi. Selain itu, PT. Freeport juga dilaporkan menyebabkan deforestasi dan polusi tailing (material sisa dari proses pemisahan) yang dibuang langsung ke Sungai Agabagong lalu menyusut ke Sungai Aikwa kemudian ke Laut Arafura. Deposisi tailing tersebut menyebabkan banjir yang menghancurkan sebagian besar hutan dataran rendah dan mengancam kota Timika. Banjir atau dumping limbah tambang ke Danau Wanagong juga telah mengakibatkan kematian pekerja perusahaan dan terancamnya kelangsungan hidup permukiman di bawah danau.

Masalah lingkungan dari perusahaan juga dapat meningkat dengan ditetapkannya Omnibus Law. Ada berbagai dampak lingkungan dari adanya Omnibus Law tersebut, selengkapnya dapat dilihat pada artikel berikut: “Dampak Lingkungan dari Omnibus Law”

Industri Sawit

Selain yang terjadi pada hutan di Papua, kerusakan hutan signifikan juga terjadi karena perkebunan sawit. Indonesia merupakan negara penghasil minyak sawit utama di dunia, bersama dengan Malaysia. Indonesia memproduksi minyak sawit  32,5 juta ton pada tahun 2014 sendiri, dan memiliki target untuk meningkatkannya. Industri ini merupakan industri yang besar dan menguntungkan, memberikan lapangan kerja yang luas bagi masyarakat dan meningkatkan kondisi ekonomi Indonesia secara signifikan. Namun sekali lagi, tanpa manajemen yang sustainable, potensi kesejahteraan yang dapat diberikan dari perkebunan sawit berubah menjadi ancaman. 

Dengan besarnya kontribusi Indonesia pada industri sawit, maka Indonesia berusaha meningkatkannya lebih jauh yang justru berujung pada kerusakan. Pada tahun 2008, lebih dari tiga juta hektar hutan terdeforestasi dan dialihfungsikan menjadi lahan sawit. Hal ini menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem, terancam punahnya flora dan fauna endemik, dan kebakaran hutan yang akan berujung pada gangguan kehidupan manusia sendiri.

Kerusakan Lingkungan Skala Global

Kemudian, kita akan melihat beberapa pencapaian negeri kita di level internasional. Indonesia termasuk negara yang banyak menghasilkan sampah plastik tanpa pengelolaan yang baik. Meski konsumsi plastik di negeri kita masih di bawah beberapa negara maju, jumlah sampah plastik yang tidak dikelola menjadi yang terbanyak kedua di dunia setelah China. Dari 20 sungai di dunia yang paling banyak mengirimkan sampah plastik ke laut, 4 sungai merupakan milik Indonesia. Keempat sungai itu adalah sungai Brantas, bengawan Solo, sungai Serayu, dan sungai Progo. Seiring dengan makin meningkatnya ekonomi dan makin banyaknya masyarakat yang hijrah ke kelas menengah, kemungkinan besar jumlah konsumsi plastik kita akan meningkat. Jika tidak ada perbaikan dalam regulasi dan sistem pengelolaan sampah, bukan tidak mungkin Indonesia akan menempati peringkat pertama. 

Selain itu, Indonesia juga menjadi negara penyumbang gas rumah kaca terbanyak keempat di dunia pada 2015. Gas rumah kaca ini merupakan gas yang menyebabkan perubahan iklim, sebuah fenomena global yang dapat menaikkan permukaan air laut, meningkatkan frekuensi banjir dan kekeringan, memicu badai yang lebih besar, merusak terumbu karang, dan perubahan ekstrim lainnya. Gas rumah kaca di Indonesia banyak disebabkan oleh deforestasi. Salah satu pemicu deforestasi ini adalah industri sawit sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Sektor energi juga memberikan kontribusi yang besar pada emisi gas rumah kaca mengingat sekitar 80% listrik di negeri kita berasal dari bahan bakar fosil. 

Masalah lingkungan memang permasalahan jangka panjang yang dampak besarnya mungkin baru akan dirasakan oleh anak-cucu kita. Namun, sekarang pun kita sudah bisa merasakan sebagian dampaknya. Sebagai produsen ikan terbesar kedua di dunia, saat ini stok ikan di Indonesia mengalami penipisan. Itu disebabkan oleh berbagai masalah mulai dari overfishing, polusi air laut akibat plastik dan sampah berbahaya lainnya, sampai perubahan iklim. Masalah ini menunjukan bahwa ketika kita mengorbankan lingkungan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, akibat jangka panjangnya bisa jadi justru menurunnya pertumbuhan ekonomi.

Penutup

Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kita memang perlu melakukan perubahan. Namun, untuk mencapai kesejahteraan dan kemajuan jangka panjang, perubahan itu harus memerhatikan sustainability. Seiring dengan meningkatnya perhatian dunia pada lingkungan, kita perlu menggunakan momentum ini untuk memperbaiki cara kita memanfaatkan dan menjaga kekayaan alam. Dengan begitu, kekayaan alam negeri ini tidak hanya menjadi dongeng yang kita ceritakan pada anak-cucu kita.