Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • Ramadhan di Kampus

Najib Azca Sebut Perdamaian dan Harmonisasi Sosial Merupakan Mandat Agama Islam

  • Ramadhan di Kampus
  • 5 April 2024, 16.46
  • Oleh :

Ramadan Public Lecture (RPL) menghadirkan Muhammad Najib Azca, Ph.D., Wakil Sekretaris Jenderal Nahdlatul Ulama, sebagai pemateri pada Kamis, 4 April 2024, dengan tajuk “Harmonisasi Sosial dan Perdamaian sebagai Pilar Penting dalam Proses Pembangunan”. Beliau mengingatkan kilas balik harmonisasi sosial dan perdamaian pada periode awal memasuki masa reformasi menjadi situasi yang serius ketika reformasi dan demokratisasi diikuti dengan maraknya kekerasan kolektif di hampir seluruh penjuru tanah air. Bahkan, pada masa itu, berbagai negara memprediksi bahwa Indonesia tidak akan bertahan karena sebab kekerasan kolektif tersebut. Angka kekerasan sangat tinggi pada masa itu, sehingga berbagai lembaga di Timur Tengah menyebutkan bahwa Indonesia yang merupakan negara besar dan luas tidak akan bertahan dan akan mengalami proses balkanisasi. Hal tersebut sebagaimana yang terjadi di Eropa Timur yang akhirnya hancur dan mengalami perpecahan. 

 

Lalu, apa yang dimaksud dengan perdamaian? Beliau mengulas dua makna perdamaian yang dirumuskan seorang tokoh yang seringkali disebut ‘Bapak Perdamaian,’ yaitu Prof. Johan Galtung. Perdamaian memiliki dua arti, perdamaian dalam arti yang positif dan perdamaian dalam arti yang negatif. Perdamaian yang negatif ditandai dengan ketidakhadirannya dari perang. Menurut Johan Galtung, definisi ini tidak cukup menggambarkan perdamaian. Secara umum, perdamaian negatif telah hadir, meskipun masih ada kekerasan, pertentangan, dan permusuhan di Indonesia. Namun, jumlahnya tidak sebanyak sebelumnya. Perdamaian dalam arti yang positif adalah suatu kehadiran dalam relasi-relasi yang bersifat harmonis dan kehadiran dari keadilan. Ketika menilik situasi perdamaian positif di Indonesia, keadaan sekarang jauh lebih baik dari masa reformasi. 

 

Beliau menyampaikan bahwa tanggung jawab Indonesia ke depannya adalah menghadirkan relasi yang harmoni antar warga dan mewujudkan keadilan bersama. Situasi permusuhan dan kebencian masih banyak di Indonesia, salah satunya ujaran kebencian di media sosial. Selain itu, pembangunan yang merata dapat mewujudkan tujuan mencapai perdamaian dan relasi yang harmoni. Menurut survei yang dilakukan oleh berbagai lembaga internasional, menunjukkan bahwa meskipun secara umum tingkat kemakmuran meningkat, baik di Indonesia maupun global, tingkat ketimpangan juga semakin tinggi. Hal ini dapat menjadi ancaman bagi perdamaian dan harmoni sosial. 

 

Beliau menyampaikan bahwa hal ini menjadi masalah serius yang perlu diperhatikan agar ada upaya-upaya menuju perdamaian yang dilakukan bangsa. Upaya yang dapat ditempuh untuk mewujudkan perdamaian adalah memulainya dari diri sendiri dan keluarga, seperti menjaga etika ketika bermain media sosial agar tidak terjadi sengketa sosial.

 

Beliau mengajak jamaah yang hadir untuk melakukan refleksi dalam upaya membangun perdamaian dan harmoni sosial, baik dalam makna positif maupun negatif yang sesungguhnya merupakan mandat dari agama Islam. Beliau mengutip Surah Al-Anbiya’ ayat ke-107 yang artinya, “Aku tidak mengutus engkau (Muhammad), kecuali untuk menjadi Rahmat bagi alam semesta.” Dari ayat tersebut, menjelaskan bahwa kehadiran risalah nubuwwah adalah untuk menghadirkan rahmat bagi seluruh entitas di bumi ini. “Saya kira dengan pesan itu, merupakan hal yang penting bagi kita untuk melakukan upaya-upaya melakukan harmoni sosial dan membangun perdamaian dalam kehidupan sehari-hari, lingkungan sekitar, maupun lingkungan yang lebih luas,” pesan beliau. (Efi Munasifah/Editor: Hafidah Munisah/Foto: Tim Media Kreatif RDK)

 

 

 

[ux_text font_size=”1.55″]

Saksikan videonya berikut ini:

[/ux_text]
[ux_video url=”https://www.youtube.com/watch?v=dlIyM7072uE&list=PLVI7o-nN85oVFh1f8aKVFfqYc-BV9J86S&index=25″ height=”50%”]

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada