Universitas Gadjah Mada Jama'ah Shalahuddin
  • Home
  • Ramadhan di Kampus

Dinamika Transformasi Budaya dalam Tataran Masyarakat Nusantara dan Relevansi Untranslatability of The Al-Qur’an

  • Ramadhan di Kampus
  • 28 Maret 2024, 01.50
  • Oleh :

Ramadhan di Kampus UGM 1445 H mengadakan Pagelaran Budaya sebagai peringatan Nuzulul Qur’an dengan mengangkat tema “Transformasi Budaya melalui Internalisasi Nilai-nilai Al-Quran sebagai Pondasi Pembangun Peradaban” pada Rabu (27/03) di halaman Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada. Rangkaian kegiatan ini diisi dengan kajian diskusi panel dari 2 narasumber yaitu Irfan Afifi sebagai penulis buku dan budayawan serta Prof. Ismail Fajrie Alatas, Ph.D. sebagai Associate Professor Kajian Islam dan Timur Tengah New York University. Kajian diskusi ini dimoderatori oleh Andi Prayitno, S.Fil., M.Phil. 

 

Pelaksanaan pagelaran budaya menjadi ciri khas dari Ramadhan di Kampus UGM yang selalu membawakan tema kontekstual yaitu kompleksitas budaya dan agama. Pada tahun ini, pagelaran budaya dibuka dengan penampilan hadrah dari Manunggaling Rebana, penampilan monolog dari Teater Gadjah Mada bertemakan syahid, dan pembacaan sari tilawah. Kemudian, sambutan Dr. Hempry sebagai perwakilan Direktorat Mahasiswa UGM.

 

Diskusi panel pertama dari Irfan Afifi bertemakan transformasi budaya Islam. Kebudayaan dalam kacamata Islam merupakan produk kearifan yang secara utuh itu bentuk pendar dari ajaran keagamaan. Arif merupakan perasaan dari nilai-nilai keagamaan yang sudah melalui dialog dengan situasi masyarakat sehingga menciptakan kebudayaan. Secara ontologis, arif  merupakan orang yang sudah mencapai kearifan/maqam arofah yang sudah mengenali kenyataan hidup dalam sebuah tataran lalu diterjemahkan ke dalam kebudayaan.

 

Pada zaman ini, kebudayaan seringkali dipisahkan dengan agama. menurut Irfan, hal ini merupakan kesalahan yang fatal. Kesenian dan kebudayaan merupakan produk olah tertinggi kemanusiaan sehingga mewujudkan keindahan. Puncak tertinggi olah kemanusiaan yang menghasilkan proses berkebudayaan disebut husnul khuluq. Makna akhlak/khuluq adalah yang baik bukan sekadar sopan santun dengan tataran adab, tetapi jati diri kecenderungan ciptaan dari manusia. Kesejatian ciptaan yang keluar dapat mewarnai kehidupan ini dengan keindahan. 

 

Ilustrasi menerjemahkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam realitas kebudayaan masyarakat yaitu melalui bodo kupat (lebaran ketupat hari ke-7) yang saat ini seringkali disebut bid’ah. Saat ini, simbol ketupat telah bertransformasi ke Idul Fitri yang diadopsi oleh masyarakat Betawi. Kebudayaan ini berupa inovasi kemanusiaan yang berusaha menerjemahkan nilai-nilai Al-Qur’an ke dalam realitas kehidupan. Kondisi kebiasaan dan sudah dihidupkan di dalam masyarakat tersebut disebut sebagai living sunnah yang baik, bukan bidah. 

 

Tuhan memberikan perumpamaan/contoh terkait kalimat-kalimat yang baik. Pertama, tatanan yang baik itu seperti pohon yang baik, yaitu akar harus menancap kuat ke bawah agar pertumbuhan sehat, sehingga dahan ranting dapat menjulang tinggi dalam sebuah pertemuan dialog kebudayaan lain. Penataan budaya masyarakat yang merupakan pendaran dari nilai-nilai Al-Qur’an harus dibangun untuk membantu masyarakat tertanam akarnya kepada akar fitrah rohani kemanusiaan, jika tidak, ia justru akan terasingkan. Dengan demikian, tatanan kebudayaan harus mengakar ke dalam kebudayaan masyarakat. Kedua, tatanan kebudayaan harus mengantarkan seseorang bertemu dengan fitrah kemanusiaan sendiri. Visi dari Al-Qur’an yaitu mengutuhkan proses kemanusiaan yang mana penyebar Islam terdahulu sudah pernah menerjemahkan ke dalam realitas kebudayaan.

 

Problematika memahami asumsi dasar dari tema “Bagaimana cara menerjemahkan/menginternalisasi nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.” Pertama, lebih menitikberatkan agensi/kemampuan manusia untuk menginternalisasi. Seakan-akan manusia memiliki kemampuan untuk menginternalisasi sesuatu eksternal berupa kalam ilahiah yang dinilai tidak mungkin. Kedua, terlalu mengasumsikan bahwa Al Qur’an adalah buku/kitab sehingga dapat diambil dan diserap nilainya. Hal ini, berarti abstraksi adanya nilai dan substansi, serta medium sebagai penyampaian substansi yang akan diambil nilainya. 

 

Al-Qur’an bukan hanya sebatas teks, tetapi sesuatu yang lebih agung dan hidup daripada sekadar teks. Oleh karena itu, terdapat doktrin Untranslatability of The Al-Qur’an yang mana ketidakmampuan Al-Qur’an diterjemahkan ke dalam bahasa lain. Prof. Fajrie memiliki sudut pandang berbeda terhadap doktrin ini, yaitu sebuah peringatan bahwa Alquran tidak bisa direduksi menjadi mushaf. Kesalahan umum mengasumsikan Al-Qur’an adalah bukan mushaf, tetapi holy recitation. Al-Qur’an bukanlah buku teks yang dapat dilihat itu, tetapi praktik menyuarakan ayat-ayat wahyu ilahiah tersebut di dalam konteks spesifik yang tidak dapat diterjemahkan. Holy recitation berarti, Al-Qur’an menjadi sebuah praktik ritualisasi yang tidak dapat lagi membedakan medium dengan pesan dan esensi dengan partikularitas penyuaraan bahasanya. Al-Qur’an sebenarnya bukan tidak bisa diterjemahkan, tetapi diterjemahkan bukan dari verbal sains ke verbal sains lain, melainkan verbal sains ke format kehidupan. 

 

Untranslatability bukan menerjemahkan dari satu bahasa ke bahasa lain, tetapi Al-Qur’an bisa menjadi real dan terealisasi pada saat diterjemahkan menjadi kehidupan. Al Qur’an seperti kitab yang hanya bunyi saat disuarakan di dalam konteks yang sangat partikulir, baik dalam konteks salat, qira’ah, semakan, maupun konteks budaya lain. Ritualisasi adalah proses membuka diri, bukan diri kita yang menginternalisasi Al-Qur’an. Akan tetapi menyiapkan dan membuka diri kita sehingga Al-Qur’an sebagai kalam ilahi dapat masuk ke dalam diri kita. Dengan demikian, bukan kita yang mengabsorbsi Al-Qur’an, melainkan diri kita yang mempersiapkan diri untuk diabsorbsi oleh Al-Qur’an. Oleh karena itu, kita menyadari Al-Qur’an bukan hanya teks biasa, melainkan kalam ilahi yang mana penyuaranya menggunakan suara kita.

 

Al-Qur’an baru bisa disebut Al-Qur’an karena ada praktik ritualisasi, maka ritualisasi berarti asumsi the reciting self. Subjek yang menyuarakan Al-Qur’an ini bukan subjek yang hidup di dunia dalam konteks kosong, subjek manusia itu ada dan berupa makhluk kultural. Dualisme membedakan agama dan budaya merupakan hal problematis. Al-Qur’an adalah praktik penyuaraan dari kalam ilahi oleh seorang subjek budaya dalam sebuah konteks ritualisasi. Hal ini pasti berbeda antara tempat satu dengan yang lain (tradisi selamatan, semakan Al-Qur’an), dan ada beberapa konteks yang sama (salat). Konteks dimana Al-Qur’an itu muncul, maka Al-Qur’an tidak bisa dipisahkan dari budaya. 

 

Praktik-praktik ritualisasi sangat partikular dari satu kultur ke kultur lain, sehingga dibutuhkan community of learning berupa tradisi keilmuan, kesarjanaan, dan praktik-praktik yang ada. Hal tersebut bermaksud untuk menyukseskan penyuaraan tersebut walaupun berbeda-beda. Wahyu ilahi hanya bisa disuarakan dalam ruang lingkup budaya dan memperkaya budaya itu, tetapi juga kalam ilahi hanya dapat dimaknai dan diserap melalui lensa budaya karena manusianya merupakan manusia berbudaya. Dengan demikian, makna Al-Qur’an tidak bisa hanya dipahami melalui kaidah-kaidah leksikon/tata bahasa arab karena makna dari Al-Qur’an tidak bisa dipisahkan dari partikularitas penyuaranya. Oleh karena itu, makna Al-Qur’an akan selalu surplus dan berkelindan dengan budaya.

 

Doctrine of untranslatability justru mengingatkan untuk berhati-hati dalam menghindari tindakan mereduksi Al-Qur’an menjadi mushaf, walaupun paham gramatika bahasa arab. Hal ini dikarenakan bukan di situ maknanya, maknanya akan selalu terikat dan terkait dengan konteks pragmatik/penyuaranya. Jadi, kita tidak bisa keluar dari partikularitas karena makna tidak bisa dipisahkan dari medium berupa bahasa maupun sang penyuaranya. Bukan hanya apa yang disuarakan, melainkan bagaimana medium wahyu ilahi ini menjadi bagian dari subjek manusia dan mengerjakan melakukan kerja-kerjanya di dalam diri subjek as crucial as what they mean.

 

Dalam tradisi keilmuan Islam dari siapa Anda mengambil Al-Qur’an itu tidak kalah pentingnya dari pada Al-Qur’an nya sendiri. Pada akhirnya, mushaf hanyalah bejana, tetapi manusia adalah bejana yang mungkin lebih mampu dari mushaf untuk menampung cahaya ilahi yang ada dalam setiap ayat-ayat Al-Qur’an dan bejana-bejana itu selalu culturally particular. (Zuhud Ahnaf Fauzi/Editor: Hafidah Munisah)

 

 

 

[ux_text font_size=”1.5″]

Simak videonya berikut ini:

[/ux_text]
[ux_video url=”https://www.youtube.com/watch?v=diqNjsoNOgA” height=”50%”]

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada