Semangat Literasi dalam Pandangan Islam

 

Oleh:  M Ridho Adisaputro

(Departemen Kajian Strategis)

 

Islam merupakan agama yang mendorong untuk membudayakan budaya literasi di kalangan umatnya. Hal ini tak lepas dari sejarah turunnya kitab suci Al Quran itu sendiri. Wahyu yang pertama kali turun kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam adalah ayat tentang ilmu pengetahuan, yaitu “Iqra” yang bermakna perintah untuk membaca. Membaca sangat penting dalam kehidupan seorang Muslimin, karena membaca merupakan pintu gerbang bagi masuknya berbagai ilmu pengetahuan. Untuk membuka wawasan pengetahuan tersebut, perlulah kiranya menggunakan perantara ilmu melalui buku-buku pengetahuan ataupun belajar dengan guru secara langsung.

Membaca tentu tidak bisa dipisahkan dari proses menulis. Hal ini bisa disebut sebagai literasi. Literasi sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai kemampuan menulis dan membaca serta kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup. Dari pengertian di sini, untuk meraih kecakapan dalam hidup tersebut, diperlukan sebuah kemampuan dalam mengolah pengetahuan yang diperolehnya. Kemampuan yang diperlukan itu dinamakan sebagai kemampuan membaca dan menulis.

Dalam sejarahnya, Islam tidak lepas dari budaya membaca dan menulis. Meskipun Bangsa Arab Pra-Islam kurang bersentuhan dengan budaya menulis dan membaca, namun setelah Al Quran turun kepada mereka, tradisi membaca dan menulis mulai tumbuh di kalangan Bangsa Arab. Banyak dari mereka mulai menuliskan ayat – ayat Al Quran di berbagai media seperti kulit kayu, batu, tulang, pelepah kurma, dan kulit hewan. Beberapa sahabat Rasulullah juga sudah mulai belajar membaca dan menulis. Salah satu tokoh yang pandai membaca dan menulis pada masa itu adalah Hafshah binti Umar bin Khattab yang merupakan anak dari Umar bin Khattab sekaligus Istri Rasulullah.

Budaya membaca dan menulis yang berkembang pada masa Rasulullah tidak lepas dari kemuliaan akhlak Rasulullah itu sendiri. Dikisahkan setelah Perang Badar, pasukan Kaum Musyrikin mengalami kekalahan sehingga banyak dari mereka menjadi tawanan kaum Muslimin. Rasulullah memulai musyawarah untuk mencari tahu apa yang akan dilakukan terhadap tawanan tersebut. Umar radhiyallahu’anhu mengusulkan agar para tawanan dibunuh saja. Abu Bakar Ash Shidiq mengusulkan agar para tawanan dibebaskan saja. Dari musyawarah yang menguras tenaga itu, didapat keputusan Rasulullah bahwa para tawanan dapat bebas dengan syarat harus mengajarkan membaca dan menulis kepada anak-anak kaum Muslimin. Keputusan yang cemerlang ini tentu sangat berdampak besar bagi masa depan kaum Muslimin karena dengan anak-anaknya yang dapat belajar membaca dan menulis, di masa depan mereka akan menjadi pejuang dakwah yang cerdas dan bertaqwa. Sungguh betapa mulianya akhlak Rasulullah ini yang memilih untuk memperlakukan tawanan secara adil.

Sebagai contoh, kita dapat melihat tradisi literasi ini pada masa Khalifah Abu Bakar Ash Shidiq memimpin, semangat literasi dari para sahabat pada masa itu sudah terpupuk baik, sejarah pembukuan Al Quran terjadi pada masa ini. Para sahabat –selepas meninggalnya Nabi– berusaha dengan baik menyatukan ayat-ayat Al Quran yang terpisah dari berbagai media sebelumnya ke dalam satu kumpulan surah Al Qur’an atau dikenal dengan istilah pembukuan Al Quran. Proses pembukuan ini juga didasari oleh kekhawatiran jika nanti banyak dari para penghafal Quran meninggal dunia, maka Al Quran juga akan hilang dari hadapan mereka. Oleh karena itulah, proses pembukuan Al Quran ini dilakukan dan hingga sekarang, manfaatnya sungguh besar dapat kita rasakan.

Sejatinya, tradisi literasi di kalangan kaum Muslimin lah yang mengantarkan umat Islam mencapai masa puncak kejayaannya. Pada masa Dinasti Abbasyiah, terdapat perpustakaan utama yaitu Baitul Hikmah yang memiliki ratusan ribu koleksi buku. Ketika Baitul Hikmah menjadi pusat intelektual dunia, setiap karya tulis ditimbang kemudian dihargai dengan emas sesuai dengan beratnya. Pada masa itu, koleksi buku dari berbagai bahasa dan bidang keilmuan sangat banyak beredar di Baitul Hikmah. Banyak ilmuwan-ilmuwan Muslim yang bermunculan dan produktif dalam menghasilkan karya yang menjadi sumbangsih dalam perkembangan ilmu pengetahuan modern. Ilmu-ilmu pengetahuan juga berkembang pesat pada era ini, mulai dari ilmu agama, ilmu pengetahuan, filsafat, kedokteran, seni, sastra, matematika, fisika, sosial, bahkan ilmu politik. Usaha penerjemahan berbagai buku dari Yunani maupun wilayah Eropa lainnya digencarkan untuk mendukung tersebarnya ilmu pengetahuan kepada kaum Muslimin pada masa itu.

Kejayaan di Dinasti Abbasyiah juga diikuti oleh kejayaan literasi umat Islam pada masa Bani Umayyah di Andalusia. Penggerak dari kemajuan literasi di Andalusia sendiri tak lepas dari peran pemimpinnya, yakni Sultan Al Hakam II yang mencintai ilmu pengetahuan. Beliau memiliki koleksi buku pribadi sebanyak 600.000 buku. Beliau juga turut andil dalam pendirian Perpustakaan Kordoba yang terinspirasi dari Baitul Hikmah di Baghdad. Kegiatan penerjemahan buku-buku berbahasa Latin ke Bahasa Arab pun terus digencarkan.

Tidak berhenti sampai disitu, bahkan pusat ilmu pengetahuan banyak bertumbuh pada masa-masa itu. Pada tahun 859, berdiri sebuah universitas pertama di dunia yang bernama Universitas Al-Qarawiyyin, yang didirikan oleh Fatimah Al Fihri di kota Fez, Maroko. Pada tahun 97, berdiri pula Universitas Al Azhar di Kairo, Mesir yang menjadi pusat ilmu pengetahuan dan agama Islam yang bahkan masih awet sampai sekarang. Semangat literasi dalam peradaban Islam juga tersebar hingga Afrika Barat. Kota Timbuktu, Mali menjadi pusat pengetahuan dan literasi di barat Afrika. Buku-buku dari berbagai genre dan bidang banyak terdapat di sana. Hal yang unik di sana adalah para pedagang terkaya justru adalah pedagang buku. Hal ini karena masyarakatnya memiliki minat baca yang sangat tinggi dan haus akan ilmu pengetahuan.

Peradaban Islam pada masa itu tak lepas dari eksistensi perpustakaan. Perpustakaan pada masa itu digolongkan menjadi perpustakaan akademik, pribadi, sekolah/madrasah, masjid dan universitas. Perpustakaan-perpustakaan pada masa itu menjadi penggerak peradaban Islam dengan adanya kegiatan literasi di sana. Jumlah koleksi yang mencapai ribuan dan terus bertambah membuat semakin apik perkembangan perpustakaan pada masa itu. Seorang Menteri pada masa kekuasaan Shalahuddin Al-Ayubi, Al Fadilah bahkan menyumbangkan 200 ribu koleksi buku untuk penyelenggaraan perpustakaan madrasah.

Di samping itu, kemajuan literasi dalam peradaban Islam juga tak lepas dari peran pemimpinnya yang juga senang dengan ilmu pengetahuan. Beberapa figur pemimpin yang senang akan perkembangan ilmu pengetahuan seperti Harun Al Rasyid yang mendirikan Baitul Hikmah di Baghdad dan Sultan Al Hakam II yang mendirikan perpustakaan Kordoba di Andalusia. Tentu dengan adanya sosok pemimpin seperti mereka, rakyat akan termotivasi untuk turut mencintai ilmu pengetahuan dan perkembangan akan semakin maju dan berkembang. Namun, pada akhir masa kejayaan Islam, kita menyadari satu hal yang pahit nan memilukan. Perkembangan peradaban Islam mengalami stagnansi yang luar biasa ketika para pemimpinnya justru kalap dengan kekuasaan, berorientasi pada perang, hidup dengan kemewahan, dan meninggalkan tradisi literasi. Peradaban Islam akhirnya mundur dan jatuh tercerai-berai memasuki abad 20.

Dengan demikian, pada akhirnya kita menyadari, sejarah peradaban Islam adalah sejarah yang tidak dapat dilepaskan dari kegiatan literasi. Literasi sendiri bahkan menjadi api penyala peradaban dengan perpustakaan sebagai dapur pacu peradaban. Namun, saat ini umat Islam masih kalap dengan kenyamanan, masih kehilangan jati dirinya untuk menghidupkan kembali tradisi pengetahuan. Umat Islam kehilangan semangat dalam membaca, berdiskusi, dan menulis yang justru hal tersebut tumbuh pada bangsa-bangsa eropa. Tentu saja, hal inilah yang mungkin menjadi penyebab mengapa kini umat Islam menjadi umat yang memprihatinkan di berbagai belahan dunia. Jika ingin meraih kejayaan Islam kembali, tentu semangat literasi dan mencintai ilmu pengetahuan harus bertumbuh di kalangan umat Islam, bukannya justru menolak ilmu pengetahuan. Tentu dengan berlandaskan Akidah Islamiyyah, semangat literasi, dan mencintai ilmu pengetahuan bukan tidak mungkin kejayaan Islam pada masa lalu akan terulang kembali.

 

“Ingin merebut kejayaan Islam kembali? Yuk Giatkan Membaca!”

 

 

 

Referensi

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/17/09/02/ovjp8q-literasi-pondasi-dasar-peradaban-islam

Membaca dan Kegemilangan Peradaban

https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/literasihttps://www.islampos.com/baghdad-dan-kejayaan-literasi-islam-39585/

http://www.duniaperpustakaan.com/2018/04/kejayaan-islam-karena-literasi.html

Antara Yogya dan Timbuktu

One thought on “Semangat Literasi dalam Pandangan Islam

  1. najibul khoir says:

    assalamualaikum ibuk, maaf sebelumnya saya najibul khoir dari kabupaten gresik. ingin menanyakan tentang berbagai macam literasi agama, apakah ada beberapa alamat yang bisa diakses mengenai beberapa macam dan bentuk literasi agama itu, maaf sebelumnya,
    wassalamualaikum warohmah wabarokah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.