Rumah Aisyah 3.3: Adab Muslimah dalam Berinteraksi dengan Lawan Jenis

Rumah Aisyah 3 Sesi 3: Adab Muslimah dalam Berinteraksi dengan Lawan Jenis
Tema : Adab Muslimah: Upaya Menjaga Izzah dan Iffah
Subtema : Adab Interaksi dengan Lawan Jenis
Pembicara : Ustadzah Tika Faiza, S.Psi.
Hari, tanggal : Ahad, 18 April 2021
Waktu : 10.00–11.30 WIB
Tempat : Google Meet

Sesi Pematerian

Poin utama dari kajian kali ini adalah:

Adab saat bertemu tatap muka

Jika kita bertemu dengan mahram kita, maka kitab boleh untuk menatap matanya asalkan tidak disertai dengan syahwat (ipar bukan termasuk mahram). Seperti yang terdapat dalam surah An-Nur ayat 31 yang berbunyi:

وَقُلْ لِّلْمُؤْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوْبِهِنَّۖ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا لِبُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اٰبَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اٰبَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اَبْنَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اَبْنَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ اَخَوٰتِهِنَّ اَوْ نِسَاۤىِٕهِنَّ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُنَّ اَوِ التَّابِعِيْنَ غَيْرِ اُولِى الْاِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ اَوِ الطِّفْلِ الَّذِيْنَ لَمْ يَظْهَرُوْا عَلٰى عَوْرٰتِ النِّسَاۤءِ ۖوَلَا يَضْرِبْنَ بِاَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِيْنَ مِنْ زِيْنَتِهِنَّۗ وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.”

Maksud tundukkanlah pandangan matamu adalah untuk tidak menikmati apa yang tidak halal bagi kita. Rasul pernah mengatakan bahwa pandangan mata pertama itu boleh namun pandangan mata kedua itu adalah anak panah setan. Jika bertemu lawan jenis maka memandanglah secukupnya dan jangan untuk menikmati. Kita juga boleh untuk saling sentuh dengan mahram kita asalkan tidak menyentuh bagian-bagian yang akan mengundang syahwat.

Kapan boleh “saling sentuh”

Kita tidak boleh bersentuhan dengan yang bukan mahram kecuali dalam keadaan yang sangat darurat. Rasul SAW pernah memberikan arahan melalui sabda beliau yang diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabrani yakni:

“Sesungguhnya andaikata kepala itu ditusuk dengan jarum yang terbuat dari besi, itu lebih baik baginya daripada menyentuh perempuan yang tidak halal baginya.”

Hal ini dimaksudkan karena menyentuh itu dapat menimbulkan getaran yang berbeda, misalnya jika bersentuhan dengan orang yang disuka, bisa jadi akan menimbulkan syahwat. Dalam keadaan darurat, misalnya dokter, itu diperbolehkan dengan diniatkan untuk menolong.

Adab suara

Suara seorang perempuan itu merupakan aurat dalam pengertian harus mendapatkan prioritas untuk dijaga dan tidak boleh melembut-lembutkan suara saat berinteraksi dengan yang bukan mahram. Dalam pemilihan kata pun seorang perempuan juga harus berhati-hati, jangan memilih kata yang multitafsir.

Membicarakan lawan jenis

Poin pertamanya adalah mengghibah dan itu tidak diperkenankan. Dari Abu Hurairah Rasulullah SAW bersabda:

“Tahukah kalian apa itu ghibah?” Lalu sahabat menjawab: “Hanya Allah dan Rasul-Nya lebih tau” Apa itu ghibah? Kata Rasul “engkau menyebut saudaramu dengan apa yang ia benci”.

Hal ini juga terdapat dalam surat Al-Hujurat ayat 12:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.”

Batasan untuk disebutkan tidak menghibah adalah di saat kita memiliki tujuan yang lain dan itu merupakan tujuan kebaikan.

Adab saat interaksi online

Seorang perempuan harus berhati-hati dengan jam malam. Kita harus bisa mengontrol diri kita sendiri dalam menerapkan jam malam kita. Misalnya, jam malam kita jam 9 malam, jadi selepas jam tersebut kita tidak bisa untuk membalas ataupun berinteraksi online dengan bukan mahram. Selanjutnya adalah emotikon, gunakanlah emotikon yang normal dan standar digunakan yang tidak menimbulkan salah persepsi. Dalam pemilihan diksi kata kita juga harus berhati-hati. Pilihlah diksi kata yang lugas dan tidak menimbulkan multitafsir. Seorang perempuan juga dilarang untuk modus, seperti contoh mengirimkan pesan online kepada lawan jenis dengan obrolan yang tidak penting agar hubungan keduanya bisa dekat.

Adab menolak dalam bersalaman

Setiap orang memiliki self-image masing-masing. Jika kita memiliki self-image tidak mau bersalaman dengan yang bukan mahram orang-orang juga akan mengenali bahwa diri kita tidak mau bersalaman dengan yang bukan mahram. Maka kita harus membangun self-image kita agar dapat dikenali oleh orang lain.

Sesi Tanya Jawab

1. Jika ikhwan dan akhwat chat-an dengan alasan untuk share ilmu dakwah sekaligus ingin istiqomah dan serius bersama akhwat untuk menikahinya 4 tahun ke depan, sepertinya si ikhwan juga sudah cinta mati. Bagaimana hal ini menurut pandangan islam dan solusi agar si ikhwan tidak berlebihan dalam mencintai sedangkan si akhwat belum mau berhubungan?

Jawab: Hati-hati kalau si akhwat memang belum siap maka harus tegas sejak awal tidak usah diterima komitmennya. Ditegaskan jika belum mau sekarang dan kita tidak mau berpacaran sehingga tidak memberikan harapan palsu, harapannya ikhwan ini melihat sikap kita.

Jika akhwat mengatakan bahwa mungkin tidak saat ini, lalu ikhwan menjawab bahwa ia akan menunggu sampai si akhwat siap. Akhwat menyampaikan lagi kalau mau menunggu silakan, tegas belum mau menjalin hubungan, kalau mau menunggu urusan anda, dan tegaskan pula belum tentu juga kita nantinya berjodoh. Tidak akan ada yang tahu masa depan dan takdir seseorang. Hati-hati dengan orang yang mencintai kita kalau belum didasari mencintai karena Allah karena cintanya akan melukai. Cara yang terakhir yaitu berdoa “Ya Allah saya memohon cintamu dan cinta orang yang mencintaimu.” Cinta yang tidak menyakiti adalah cinta yang didasarkan karena Allah. Menunggu itu punya risiko dan jangan pula mencintai pasangan melebihi cinta pada Allah. Belajarlah dari kisah nabi Ibrahim yang diuji rasa cintanya kepada Allah. Tapi kalau akhwatnya punya rasa sama ikhwan maka juga harus tegas untuk diri sendiri.

2. Bagaimana jika si ikhwan sudah diblokir oleh si akhwat, tapi ia menolak dengan nomor lain di-chat juga, dan katanya ia berlagak ikhlas jika si akhwat belum berjodoh dengannya dan berserah diri kepada Allah. Tapi ia juga mengancam ingin bunuh diri padahal si akhwat sudah menegaskan belum mau menikah maupun menunggu apalagi berpacaran sekarang ?

Jawab: Harus hati-hati bisa juga dikonsul ke psikologis. Perlu ditangani serius dengan minta batuan ke orang tua atau saudaranya si akhwat sendiri agar bisa menyampaikan ke si ikhwan bahwa ia belum mau, atau bahkan jika kenal sampaikan juga maupun hubungi orang tua ikhwan itu untuk menyelamatkan nyawanya dari bunuh diri yang seharusnya tidak ia lakukan.

3. Jika menolak bersalaman dengan salah satu sesepuh atau imam masjid daerah yang mengulurkan tangan dan takut dipandang baru anak kecil sok lebih paham agama. Lalu kejadian nyata dari keluarga, malah dipandang aneh karena menolak bersalaman yang terjadi saat lebaran. Lalu bagaimana jika dalam membangun self image merasa berat ?

Jawab: Self image dibangun butuh waktu jauh-jauh hari sebelum salaman. Jika punya saudara modusin dengan ajak ngobrol padahal niatnya ingin memberikan isu pemahaman Islam bahwa salaman itu tidak boleh. Jika mereka menolak maka setidaknya kita sudah ikhtiar untuk mewacanakan alasan kita tidak mau bersalaman karena mematuhi perintah agama sehingga orang itu tau alasan kita seperti ini. Akan tetapi hal ini juga harus diimbangi dengan akhlak yang lain seperti menggunakan busana yang sesuai
syariat islam, sholat dijaga, dan konsisten juga ibadah-ibadah yang lain. Sesekali bikin modus minimal di keluarga kita dulu dengan mengajak merekan mendengarkan kajian secara tidak langsung melewati ustad maupun ustadzah yang jauh lebih paham tentang agama Islam.


Rumah Aisyah Seri 3

Kajian sebelumnya: Adab Muslimah dalam Bersolek

Kajian selanjutnya: Adab Muslimah dalam Berkarier