Rumah Aisyah 3.4: Adab Muslimah dalam Berkarier

Kajian Rumah Aisyah 3 dengan subtema Adab Muslimah dalam Berkarier
Tema : Adab Muslimah: Upaya Menjaga Izzah dan Iffah
Subtema : Adab Muslimah dalam Berkarier
Pembicara : Ustadzah Tika Faiza, S.Psi.
Hari, tanggal : Ahad, 25 April 2021
Waktu : 10.00–11.30 WIB
Tempat : Google Meet

Sesi Pematerian

Wanita dalam pandangan Islam

Ialah sosok yang sangat dimuliakan daripada posisi wanita dalam banyak peradaban Jepang, Yunani, maupun Persia. Contohnya dalam menutup aurat wanita dalam Islam sangat dimuliakan dari segi fisiknya, bahkan saking mulianya yang boleh menyentuh hanya mahram dan suaminya, serta tidak boleh keluar tanpa mahram. Berbeda dengan wanita peradaban lain yang mengumbar fisik menjadi suatu kelebihan bahkan mereka diperbolehkan berganti-ganti pasangan. Misal di Indonesia ada pandangan wanita akan semakin mahal harganya jika menjadi pekerja seks. Memakai hijab dalam Islam bukan bentuk pengekangan tetapi pemuliaan dan jika keluar dari syariat-syariat itu maka akan turun harga dirinya. Sebenarnya yang diperintahkan Allah subhanahu wa ta’ala melalui syariat itu bertujuan untuk menjaga agama dan menjaga sisi kemanusiaan manusia itu sendiri. Tetapi jika ada kawan yang ingin berhijrah dan belum memantapkan hati untuk mengenakan hijab kita tidak boleh merendahkannya.

Tugas utama wanita baik sebelum dan setelah menikah

Esensinya tidak beda dengan laki-laki secara garis besar untuk hidup di dunia dengan sebaik-baik kehidupan dan sebagai seorang khalifah lalu ia beribadah sesuai ketentuan seorang perempuan. Wanita lebih utama salat di rumah daripada salat di masjid, tetapi jika ingin ke masjid silakan. Contoh amal saleh yang dimiliki wanita tetapi tidak dimiliki laki-laki yaitu mengandung, melahirkan, dan menyusui. Hal ini menjadi salah satu kemuliaan wanita yang tidak bisa disaingi laki-laki dan tugas utama yang tidak bisa tergantikan. Di beberapa tradisi ada yang membatasi tugas perempuan hanya seputar kasur, sumur, dan dapur. Tetapi dalam Islam, wanita juga diperbolehkan berkarier dan menuntut ilmu, sebab menuntut ilmu adalah suatu yang wajib. Bahkan para shahabiyah zaman Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam punya antusias tinggi untuk menuntut ilmu langsung kepada sumbernya yaitu Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam tanpa rasa malu. Jika hal yang dibahas spesifik untuk wanita, maka bunda Aisyah yang akan menjelaskan. Bahkan bunda Aisyah menjadi guru dari para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang laki-laki dengan segala adabnya. Bunda Aisyah terkenal ahli fikih, hadist, dan kedokteran.

Bolehkah wanita berkarier?

Islam tidak melarang wanita untuk berkarier tetapi dengan batasan-batasan yang ditetapkan oleh syariat.

1. Segi pakaian

Jangan sampai membuka aurat dan menanggalkan hijab karena suatu syarat pekerjaan. Maka haram hukumnya pekerjaan itu baginya, lebih baik cari pekerjaan lain yang mendukung seorang akhwat menutup aurat. Menutup aurat tidak bisa ditawar sebab ini bagian dari islam memuliakan perempuan. Menjalani proses belajar dalam islam ada juga proses pemakluman, tetapi jika sudah sampai padanya ilmu atau adab maka kita wajib mengamalkannya tidak boleh ditawar. Berbeda dengan orang yang sedang mencoba berhijrah dan mendalami islam, maklum untuk memberikannya ruang dalam memantapkan hatinya. Tetapi jika sudah sampai padanya ilmu maka tidak bisa ada pemakluman lagi.

2. Kalau akhwat belum menikah maka pastikan mendapat izin dari orang tua atau walinya.

Contoh dalam menuntut ilmu atau membangun karier dalam bidang akademik, hati-hati dan pastikan mendapat izin dari orang tua atau wali, tempat yang dituju aman, dan ia punya komunitas besar yang bisa menjaganya maka hal ini diperbolehkan.

3. Kalau yang sudah menikah maka harus mendapat izin dari suaminya.

Para ulama memberikan arahkan untuk memandang hal ini bukan bentuk pengekangan tetapi bentuk kasih sayang. Jika perempuan dilepas begitu saja maka akan membuka banyak jalan fitnah yang muncul. Jika suaminya memperbolehkan maka harus konsekuen antara keduanya yaitu lebih banyak tenaga yang harus dikeluarkan nantinya. Terkait akhwat yang menikah lalu ingin bekerja untuk menghasilkan profit atau uang dan menjadi tambahan hidup keluarganya, maka uang itu jatuhnya sedekah pada suami kalau suaminya sudah mampu, mapan, dan berpenghasilan cukup. Zainab istrinya Abdullah Ibnu Mas’ud menjadi tulang punggung bagi keluarganya karena secara finansial suaminya belum mapan. Ia bekerja menghasilkan uang untuk menghidupi anak dan suaminya. Dalam hadist disebutkan ia mendapat dua pahala yaitu pahala kerabat dan pahala sedekah.

Kalau suaminya sudah mapan sebagian ulama berpendapat lebih baik istrinya mengambil peran di rumah untuk memanfaatkan potensinya mendidik generasi masa depan yang sangat mulia. Orang besar lahir dari ibu yang cerdas dalam mendidik anaknya. Contohnya Imam Syafi’i yang kecerdasannya tidak diragukan lagi lahir dari ibu yang sangat memperhatikan kesucian makanan.
Imam Syafi’i seorang yatim dari saat kecil. Sedangkan Imam Bukhori lahir dari ibu yang sangat cerdas mendidiknya dan seorang ahli ibadah dengan ketaatannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala sangat luar biasa. Imam Bukhori buta saat masih kecil, lalu ibunya berdoa dengan ketaatan luar biasa dan Allah subhanahu wa ta’ala mengabulkan doa beliau untuk memberikan penglihatan kembali. Karena ibunya sangat berharap Bukhori dapat menjadi seorang ulama besar di masa depan, ia mempunyai visi
dan misi dalam mendidik anaknya tanpa menyerah.

4. Boleh berkarya tetapi melihat situasinya aman untuk perempuan.

Contohnya boleh saja jika akhwat ingin bekerja di pelayaran tetapi perlu dipertimbangkan kembali. Karena mayoritas di sana ikhwan dan sekali berlayar akan lama sekali ditambah lagi di sana tidak ada hiburan bagi laki-laki. Syarat ini tidak boleh bertentangan dengan syarat kedua. Kalau ia belum menikah ia tidak boleh menzalimi sampai tidak ada waktu untuk orang tuanya hanya karena kariernya. Syarat kewajiban pertama seorang anak yang belum menikah adalah birrul walidain dan jika kita belum menikah maka kita adalah milik orang tua, karena surga ada di telapak kaki orang tua kita terutama Ibu. Jangan sampai menjadikan alasan jihad fi sabilillah untuk membuat orang tua kita bersedih karena ada keinginan dari beliau yang tidak terpenuhi oleh kita. Setelah menikah kita akan sadar sikap kita kepada kedua orang tua kita

Zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ada seorang sahabat yang ingin pergi berjihad maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengizinkannya untuk pulang karena ia punya orang tua yang sudah tua dan harus dibantu urusan hidupnya. Terdapat sosok Zainab Al-Ghazali dari Mesir beliau mencicipi rasanya penjara dan penyiksaan satu ruangan dengan anjing. Tapi atas izin Allah subhanahu wa ta’ala anjingnya tunduk dan tidak jadi melukai beliau. Waktu itu beliau berjuang di ranah politik untuk meluruskan rezim yang saat itu sangat dzolim pada umat Islam. Ketika beliau berjuang mati-matian ia sudah dalam posisi mendapat rida dari suaminya diperbolehkan menempuh jalan jihad ini.

Irisan peran bagi istri dan ibu bagi anak-anaknya

Hampir semua ulama bersepakat boleh kalau wanita berkarier dengan syarat tidak mendzolimi urusan rumah tangganya. Bahkan bunda Khadijah ra. adalah sosok yang hebat baik sebelum dan setelah menikah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Khadijah ra. ialah cinta pertama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, walaupun setelah ia meninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikah dengan 11 istri yang lain. Bahkan beliau pernah bersabda pada Aisyah ra. tentang Khadijhah ra. untuk menunjukkan keteladanannya, lalu Aisyah ra. terbakar cemburu. Allah subhanahu wa ta’ala tidak memberikan ganti yang lebih daripada Khadijah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Di saat orang lain mendustakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat mendakwahkan Islam dan saat itu hanya Khadijah ra. orang pertama yang menyatakan keimanannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Di saat orang lain menahan hartanya, maka Khadijah ra. memberikan semua hartanya untuk dipakai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam demi dakwah di jalan Allah subhanahu wa ta’ala. Ketika Rasul menikah dengan 11 istri yang lain tidak ada yang memberikan keturunan. Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam mendapat putra dari Khadijah ra., beliau punya putra lagi dari budak yang dinikahinya yaitu Mariyah Al-Qibtiyah lahir darinya Ibrahim bin Muhammad. Semua putra rasul yang laki-laki meninggal di masa kecil, hikmahnya menurut para ulama agar tidak terjadi proses pengkultusan. Bahkan Ali yang hanya sepupu dan menantu nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dikultuskan sampai terjadi banyak sekali penyimpangan misal oleh orang Syiah yang menganggap harusnya wahyu itu turunnya ke Ali bukan ke Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka jalur nasab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diteruskan oleh Fatimah ra.

Gimana kita berkarier di luar rumah dan punya amanah di rumah?

Belajar dari bunda Khadijah ra. beliau pembisnis besar di Mekah saat itu

1. Proses perdagangan Khadijah ra. dengan manajemen yang sangat bagus dan tidak perlu menjatuhkan harkat martabat untuk mendapatkan duniawi.

Beliau punya banyak dagangan dan memilih orang yang berkompeten untuk menjualkan dagangannya. Khadijah ra. tetap di Mekkah yang ke Syam ialah orang tepercaya yang bermitra dengannya. Khadijah ra. tidak mengumbar diri pergi jauh ke mana-mana apalagi sampai menanggalkan aurat, ia bahkan di rumah dan hanya keluar rumah jika perlu. Salah satu orang kepercayaan Khadijah ra. adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang diberi komiditi dagangan untuk dibawa ke Syam ditemani pembantu Khadijah bernama Maisarah yang juga sahabat nabi. Setelah pulang dari Syam, Maisarah memberi kesaksian bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ini istimewa membawa keuntungan berlipat-lipat berbeda dengan mitra-mitra Khadijah lainnya. Segala akhlaknya yang mulia membuat Khadijah ra. terpesona. Beliau menjaga kehormatannya melalui sahabat beliau bernama Nafisah untuk mencari info tentang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya pada baginda bagaimana jika Khadijah ra. datang padanya, jadi tidak langsung main tembak. Khadijah ra. tidak larut dalam bisnis yang jahiliyah yang menjatuhkan kehormatannya baik riba, tidak jujur, bohong, apalagi jatuh ke gaya hidup glamour.

2. Apa pun yang beliau dapatkan dari hasil bisnisnya tidak digunakan untuk jalan yang salah apalagi gaya hidup yang glamour.

Jika kita berkarier menghasilkan uang kita perlu memberikan orientasi pada uang kita ke mana akan dihabiskan. Karena proses berkarier kita tidak jauh-jauh dari jalan yang dibenarkan syariat. Keuntungan Khadijah ra. sepenuhnya diberikan pada Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam untuk jihad di jalan Allah subhanahu wa ta’ala, bahkan harta Khadijah ra. habis tanpa tersisa. Saat akan meninggal Khadijah ra. berpesan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika ia sudah meninggal, tidak bisa membersamai dalam proses dakwah, dan ia sudah tidak punya apa pun untuk diberikan dalam dakwah nanti, jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam butuh kayu untuk berdakwah maka ambillah tulang-tulangnya Khadijah ra. barangkali bisa sebagai kayu dalam penopang dakwah.

Sesi Tanya Jawab

1. Bagaimana menyadarkan seorang ikhwan yang mengabaikan atau sering tidak memberi nafkah bagi keluarganya. Baiknya seperti apa karena mereka sering bertengkar dan membuat anak-anaknya memiliki mental yang kurang baik?

Jawab:

Jika memungkinkan pertama, cari tahu siapa orang yang dihormati. Mintalah bantuan kepada orang yang dihormati ini agar menasihati laki-laki ini.

Kedua, jika yang bertanya adalah teman dari yang perempuan, semangati yang perempuan untuk tetap berakhlak baik sekalipun suaminya bersikap demikian. Sebab saat sudah terjalin kehangatan dengan pasangan, lebih mudah untuk menasihati pasangan. Menasihati pasangan tidak mesti secara langsung tetapi bisa dengan mengajak mendengarkan kajian bersama.

2. Bagaimana jika ada laki-laki yang berpendapat bahwa perempuan boleh berkarier atau beraktivitas hingga malam hari karena melihat pada masa shahabiyah pun pernah berjihad hingga malam hari. Apakah pendapat ini benar dan bagaimana pendapat ustadzah akan hal ini dihubungkan dengan fakta saat ini juga banyak perempuan yang bekerja hingga malam hari ?

Jawab:

Untuk berjihad di zaman nabi yang melibatkan perempuan, kemungkinan sedang dalam situasi perang dan darurat sehingga perlu waspada 24 jam. Prinsipnya, jika sudah malam sebaiknya akhwat di rumah, mengingat banyak kejahatan yang terjadi di malam hari. Jika dikontekskan zaman sekarang, ada akhwat yang bekerja di malam hari, maka perlu dilihat apakah sudah berikhtiar mencari pekerjaan yang masuk kerjanya siang hari. Hal ini lebih diutamakan karena menjadi faktor prevensi untuk menjaga kehormatan akhwat itu sendiri. Jika sudah coba mencari kerja yang masuknya siang tetapi belum dapat dan terpaksa kerja malam, tidak apa-apa dengan catatan mempertimbangkan keamanan saat di lokasi kerja (tidak diganggu pekerja lain) dan keamanan saat pulang kerja. Lebih baik lagi jika ada mahram yang menemani saat pulang malam.

Namun demikian, semoga Allah subhanahu wa ta’ala memudahkan mendapat pekerjaan yang masuknya siang sehingga tidak perlu keluar malam bagi akhwat apalagi belum menikah.


Rumah Aisyah Seri 3

Kajian sebelumnya: Adab Muslimah dalam Berinteraksi dengan Lawan Jenis