Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • Ramadhan di Kampus

Ridwan Hamidi: Perbedaan Itu Tidak Menghambat Ukhuwah

  • Ramadhan di Kampus
  • 29 Maret 2024, 14.05
  • Oleh :

Mimbar subuh pada Jum’at, (29/03), membahas mengenai ukhuwah dengan narasumber Ridwan Hamidi, Lc., M.P.I., M.A. yang merupakan Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Yogyakarta. Indonesia merupakan negara dengan berbagai jenis keberagaman, seperti suku, adat, dan budaya. Keragaman ini dapat diibaratkan seperti pelangi, pelangi itu indah karena warnanya yang beragam. Jika hanya ada satu warna maka pelangi tidak akan nampak indah. 

 

Keberagaman akan menjadi harmoni jika dirangkai dengan ukhuwah. Sebagaimana dalam firman Allah Swt Q. S. Al-Hujurat : 13 yang artinya “hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. Pada ayat ini Allah Swt. menciptakan manusia dalam jenis laki-laki dan perempuan serta berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal. Maka mengenali perbedaan dan keberagaman merupakan wujud dari ukhuwah. Seseorang yang diikat dalam ukhuwah akan berada diatas mimbar-mimbar cahaya. Ini merupakan salah satu cara Allah Swt. untuk memuliakan orang yang merajut ukhuwah.

 

Perbedaan tidak hanya ada di Indonesia tetapi juga di belahan dunia lain. Perbedaan tidak menjadi pemisah dalam ukhuwah. Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad telah mengenalkan perbedaan dari zaman dulu dan cara menyikapi perbedaan tersebut. Imam Syafi’i menjelaskan kepada muridnya jika mendapati perbedaan, maka perlu diketahui bahwa persamaan yang ada lebih besar dibandingkan perbedaan. Dengan begini, dapat diketahui bahwa peluang untuk merajut ukhuwah lebih banyak daripada perbedaan. Perbedaan jangan sampai mengusik kebersamaan yang telat dirajut selama ini.

 

Terakhir, dalam kajiannya bapak Ridwan Hamidi memberikan sebuah cara meminimalisir terjadinya konflik dalam perbedaan, yaitu diperlukannya perjalanan untuk melihat perbedaan yang ada di negara lain agar kita dapat melihat bahwa perbedaan itu biasa-biasa saja dan bukan merupakan sebuah masalah. (Jullanar Hanun/Editor: Hafidah Munisah/Foto: Tim Media Kreatif RDK)

 

 

 

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts

“Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”

Isu Dunia IslamJS MenulisUncategorized Senin, 4 Agustus 2025

Kita sering mendengar berita-berita konflik dan gesekan antar ormas Islam di Indonesia. Entah itu karena perbedaan pendapat dalam perkara agama, hingga pembubaran paksa pengajian di berbagai tempat.

Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI

Catatan ShalahuddinIsu Dunia IslamUncategorized Minggu, 27 Juli 2025

Oleh : Muhammad Saddam Syaikh Arrais

Sabtu, 17 Mei 2025

Dekade 1970-an hingga 1990-an merupakan periode yang cukup vital dalam sejarah pergerakan mahasiswa Islam di Indonesia.

Kisah Sang Pemburu Terbaik

Cerpen Jumat, 18 Juli 2025

Oleh Ahlamazing dan Kak Gem

Debur ombak adalah musik pertama yang ia kenal.

UMAT YANG WAFAT

Catatan ShalahuddinJS MenulisUncategorized Kamis, 22 Mei 2025

Kemanusiaan mati dalam diri-diri kita
yang tanpa belas kasihan melumuri diri dengan darah.
Para khalifah yang dengan rakus melahap bangkai para jenazah,
dan dengan sombong mengenakan kain-kain kafan.
Wahai saudara-saudaraku,
maafkan kami yang hanya sibuk memampang
poster-poster di sosial media,
mengenang duka-duka kalian dalam berita-berita.
Sedangkan dalam sujud-sujud kami lupa diri,
sibuk memikirkan jodoh, uang, tugas dan organisasi.
Ke mana perginya Tuhan dan doa-doa?
Maafkan kami terlalu sibuk berbaris
di lapangan dan persimpangan-persimpangan jalan,
meneriakkan kata-kata “merdeka, merdeka”
sampai habis suara.
Tapi kami salat subuh jam tujuh,
berjamaah hanya jika tidak lelah.
Pun kapan kami akan mengijabahi janji-janji Tuhan
tentang kebangkitan dan pembebasan,
jika dalam beragama saja masih bermalas-malasan,
sibuk mencari alasan dan pembenaran.
Maka lagu, orasi-orasi dan puisi ini
hanyalah mimpi-mimpi.
Tubuh-tubuh yang berbaris dan berlagak gagah
ini tak kan berani melawan penjajah.
Toh, kita sudah kalah melawan ego sendiri.
Apakah jika kita bisa mengangkat senjata,
siapa yang berani bersamaku memerdekakan Palestina?
(Jeda)
Maka ingatlah,
bahwa sesungguhnya doa adalah senjata pusaka umat.
Maka angkatlah senjatamu,
panjatkan doa-doa setiap kali teringat pada tangisan tanpa air mata,
pada tawa anak-anak tanpa orang tua,
dan pada kemanusiaan yang telah mati
dalam diri-diri kita.
00.06
Selasa, 21 Mei 2024
Meja Barat
Penulis : Ammar Rafi
.

Terbaru

  • “Lebih dari Sekadar ‘Berebut Jamaah’: Mengapa Dakwah Kampus Kita Belum Optimal?”
    4 Agustus 2025
  • Ketika FSLDK Jadi Arena Pertarungan Tarbiyah dan HTI
    27 Juli 2025
  • Kisah Sang Pemburu Terbaik
    18 Juli 2025
  • UMAT YANG WAFAT
    22 Mei 2025
  • Paradoks Pribumi dan Dakwah: Mengapa Kita Sulit Berkembang?
    21 Mei 2025

Kategori

Arsip

Udah punya LINE?

Jadiin JS sahabat terbaikmu :)
ADD LINE JS KUY!
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada